Media Kampung – Angka kematian jemaah haji 2026 turun drastis hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerapkan skrining kesehatan ketat di debarkasi Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, sebagai upaya deteksi dini penyakit menular pada jemaah yang baru tiba dari Tanah Suci.

Penurunan Angka Kematian Jemaah Haji 2026

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan bahwa hingga 2 Juni 2026 jumlah jemaah wafat di Arab Saudi tercatat 134 jiwa. Angka ini turun signifikan dari 267 jiwa pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan ini sejalan dengan peningkatan kualitas layanan di titik-titik krusial seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang berjalan lebih rapi tanpa kendala keterlambatan berarti.

Skrining Kesehatan di Debarkasi

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus, meninjau langsung proses debarkasi di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa malam (2/6/2026). Ia menegaskan bahwa penguatan deteksi dini melalui active case finding dan kolaborasi lintas sektor di pintu masuk negara menjadi kunci keberhasilan melindungi kesehatan jemaah.

Kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan (istitha’ah) terbukti efektif menekan angka kesakitan dan kematian. “Saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh,” kata Benny.

Active Case Finding di Bandara Soekarno-Hatta

Setibanya di bandara, petugas melakukan observasi visual dan pemindaian suhu tubuh menggunakan thermo scanner. Jemaah yang menunjukkan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau demam langsung dibawa ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa pada hari itu saja hampir 1.600 jemaah dilayani. “Petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit. Jika ditemukan, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium,” paparnya.

Kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas. “Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung. Prinsip kami memberikan pertolongan pertama dan merujuk ke rumah sakit terdekat,” ujar Naning.

Kolaborasi Lintas Sektor

Keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji ini merupakan hasil kerja sama erat antara AirNav, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, dan Angkasa Pura. BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap yang bekerja 24 jam, termasuk dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, dan armada ambulans siaga.

Dengan skrining ketat dan koordinasi lintas sektor, Kemenkes optimistis angka kematian jemaah haji dapat terus ditekan di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.