Media Kampung, Nagekeo – Sembilan kali gempa bumi dengan magnitudo di atas 4 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pagi hari tanggal 19 Agustus 2026. Gempa-gempa tersebut terjadi secara beruntun sejak pukul 01.29 WIB hingga pukul 04.37 WIB, menurut data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Gempa pertama tercatat dengan magnitudo 4,2 berpusat 51 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo pada pukul 01.29 WIB. Selanjutnya, gempa magnitudo 4,8 terjadi pada pukul 02.03 WIB dengan pusat di laut 39 kilometer utara Mbay pada kedalaman 11 kilometer.
Berikut rincian gempa yang terjadi:
- Pukul 03.15 WIB, magnitudo 4,7, pusat gempa di laut 42 kilometer utara Mbay, kedalaman 7 km.
- Pukul 03.28 WIB, magnitudo 4,7, pusat gempa 43 kilometer timur laut Mbay, kedalaman 6 km.
- Pukul 03.31 WIB, magnitudo 4,1, pusat gempa di laut 40 kilometer utara Mbay, kedalaman 12 km.
- Pukul 03.50 WIB, magnitudo 4,7, pusat gempa di laut 57 kilometer timur laut Mbay, kedalaman 10 km.
- Pukul 04.11 WIB, magnitudo 4,5, pusat gempa di laut 36 kilometer utara Mbay, kedalaman 12 km.
- Pukul 04.13 WIB, magnitudo 4,2, pusat gempa 39 kilometer barat laut Mbay, kedalaman 6 km.
- Pukul 04.37 WIB, magnitudo 4,1, pusat gempa 45 kilometer timur laut Mbay, kedalaman 6 km.
Wilayah Nagekeo yang berada di kawasan rawan gempa di Nusa Tenggara Timur ini mengalami aktivitas seismik yang cukup tinggi pagi ini. Kedalaman gempa yang relatif dangkal, antara 6 hingga 12 kilometer, menjadi perhatian karena potensi dampak yang lebih terasa di permukaan.
BMKG terus memantau situasi dan mengimbau masyarakat di sekitar Nagekeo untuk tetap waspada serta mengikuti arahan dari pihak berwenang terkait mitigasi bencana. Masyarakat juga diharapkan melaporkan kondisi terkini apabila terjadi kerusakan atau kejadian yang mencurigakan pasca-gempa.
Kejadian ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan pemahaman mitigasi bencana gempa bumi di wilayah rawan seperti Nagekeo. Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan meningkatkan sosialisasi dan kesiapan tanggap darurat untuk mengurangi risiko bencana.















Tinggalkan Balasan