Media Kampung, Singaraja – Paket Blue Sport Buleleng memberikan dampak terhadap peningkatan literasi ekologis bahari pemuda pesisir. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang mengukur perubahan pengetahuan, sikap pro-lingkungan, hingga keterampilan konservasi setelah penerapan paket tersebut.
Penelitian berjudul “Efektivitas Paket Blue Sport Buleleng dalam Meningkatkan Literasi Ekologis Bahari Pemuda Pesisir Buleleng” dilakukan oleh Ketut Hendry Wijaya Kusuma dan Gede Hendi Ari Susila dari STKIP Agama Hindu Singaraja, bersama Putu Kusuma Widiastuti dari Universitas Pendidikan Ganesha. Penelitian ini melibatkan 60 pemuda pesisir yang terbagi menjadi 30 orang kelompok eksperimen dan 30 orang kelompok kontrol.
Dosen STKIP Agama Hindu Singaraja, Ketut Hendry Wijaya Kusuma, menjelaskan bahwa pendekatan Blue Sport menjadikan aktivitas bahari sebagai pengalaman belajar bagi pemuda pesisir. Pendekatan tersebut menghubungkan pengalaman langsung dengan pengetahuan, sikap kepedulian lingkungan, dan keterampilan konservasi. “Potensi bahari Buleleng justru dijadikan bagian dari pengalaman belajar melalui Paket Blue Sport Buleleng,” ucapnya.
Dari hasil penelitian tersebut, dampak paling terlihat terjadi pada pengetahuan ekologis bahari. Rata-rata skor kelompok eksperimen meningkat dari 59,37 sebelum penerapan Paket Blue Sport menjadi 79,60 setelahnya, atau naik 20,23 poin, sedangkan kelompok kontrol hanya meningkat 4,31 poin. Pada aspek sikap pro-lingkungan bahari, kelompok eksperimen mengalami peningkatan 15 poin, dari 62,10 menjadi 77,10. Sementara kelompok kontrol hanya mengalami peningkatan 2,96 poin.
Peningkatan juga terlihat pada keterampilan konservasi berbasis tindakan. Kelompok eksperimen meningkat 17,88 poin, dari 54,72 menjadi 72,60, sedangkan kelompok kontrol hanya meningkat 3,50 poin. Pihaknya menyebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa Paket Blue Sport Buleleng tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan konservasi peserta.
Penelitian tersebut menempatkan literasi ekologis sebagai proses yang bergerak dari pengetahuan menuju sikap dan kemudian tindakan. “Blue Sport Buleleng bukan sekadar tentang olahraga di laut, tetapi menjadikan laut sebagai ruang belajar,” ujarnya.
Penelitian ini melibatkan peserta dari Karang Taruna, Pokdarwis, komunitas bahari, dan Pokmaswas yang tersebar di tujuh kecamatan pesisir Buleleng. Hasil penelitian kemudian mendorong rekomendasi kerja sama dengan Dinas Pendidikan agar literasi ekologis bahari dapat dikembangkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di jenjang SD, SMP, dan SMAK.
Penelitian yang didanai Kemdiktisaintek melalui Hibah Penelitian Nomor 929DSTLL8DT.05.002026 ini menunjukkan bahwa Paket Blue Sport berpotensi menjadi pendekatan pembelajaran yang menghubungkan pengalaman langsung di lingkungan bahari dengan peningkatan literasi ekologis dan keterampilan konservasi pemuda pesisir Buleleng.













