Media Kampung, Bondowoso – Di balik gagahnya Gunung Raung melalui jalur klasik Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terdapat warga lokal yang menggantungkan penghasilan dari deru mesin sepeda motor. Mereka adalah para pengojek Gunung Raung yang setiap hari mengantar pendaki menuju titik awal pendakian.
Sedikitnya 14 pria asal Dusun Legan, Desa Sumberwringin, tergabung dalam kelompok ojek gunung tersebut. Mereka mengandalkan jasa antar pendaki sebagai salah satu sumber mata pencaharian sekaligus bagian dari aktivitas pariwisata di kawasan Gunung Raung.
Salah seorang pengojek, Gavin (25), telah menjalani profesi tersebut selama sekitar empat tahun. Ia mengaku sudah hafal dengan karakter medan menuju jalur pendakian Gunung Raung, termasuk tanjakan, jalan berbatu, hingga medan berdebu yang harus dilalui sepeda motor. “Dukanya ya kalau lagi sepi pendaki, atau pas Gunung Raung ditutup karena erupsi dan kebakaran hutan lahan (karhutla),” ungkap Gavin, Minggu, 3 Oktober 2026.
Menurut Gavin, kondisi berbeda dirasakan ketika musim pendakian berlangsung. Dalam sehari, seorang pengojek dapat mengantar hingga lima pendaki secara bergantian, dengan ketentuan satu sepeda motor hanya membawa satu penumpang demi keselamatan. Tarif jasa ojek disesuaikan dengan lokasi pemberhentian. Pendaki yang diantar menuju Pos 1 dikenakan tarif Rp50.000, Pos 2 sebesar Rp65.000, sedangkan perjalanan menuju Pos Batu Tulis dipatok Rp90.000.
“Bisa lima kali sehari, tapi sistemnya bergantian,” ujar pria 25 tahun itu.
Untuk menjaga pemerataan pendapatan, para pengojek menerapkan sistem antrean. Setiap pengemudi memiliki urutan untuk membawa pendaki sehingga kesempatan mendapatkan penumpang dapat dirasakan secara merata. “Jadi kalau sudah sampai urutan bawah, diurutkan lagi dari atas,” katanya.
Menariknya, para pengojek tidak hanya mengantar pendaki dari dalam negeri. Gavin menyebut wisatawan mancanegara juga pernah menggunakan jasa mereka untuk menuju jalur pendakian Gunung Raung, termasuk pendaki asal Singapura. “Ada juga pendaki yang dari Singapura,” ujarnya.
Sepeda motor yang digunakan para pengojek umumnya masih dalam kondisi standar tanpa modifikasi berat. Namun, perawatan kendaraan menjadi perhatian utama, terutama kondisi ban dan performa mesin untuk menghadapi medan tanjakan berbatu dan berdebu.
Bagi Gavin dan 13 rekannya, pekerjaan tersebut bukan sekadar mengantar pendaki menuju tujuan. Mereka juga menjadi salah satu wajah pertama yang berinteraksi dengan wisatawan sebelum para pendaki memulai perjalanan menaklukkan Gunung Raung.
Pengelola Basecamp Pendakian Gunung Raung via Sumberwringin, Cadas, membenarkan penerapan sistem giliran bagi para pengojek. Sistem tersebut diterapkan agar pendapatan yang diperoleh masing-masing pengojek tidak terpaut jauh. “Supaya pendapatan sama rata dan selisihnya tidak jauh,” jelas Cadas saat dikonfirmasi, Sabtu (3 Oktober 2026).
Menurutnya, aktivitas pendakian Gunung Raung menjadi salah satu sumber penghasilan bagi warga lokal yang tergabung dalam kelompok ojek gunung tersebut.














