Media Kampung – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa Partai Golkar adalah partai yang terbuka dan tidak dimiliki oleh keluarga atau perusahaan tertentu. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Pelantikan Pengurus DPD Partai Golkar Wilayah Bali pada Sabtu, 30 September 2023.
“Siapa pun yang mau menjadi Ketua Umum Partai Golkar, boleh. Tidak perlu minta izin ke trah A, trah B, trah C. Kita semua mempunyai trah yang sama dengan kedudukan yang sama,” ungkap Bahlil.
Bahlil juga menjelaskan bahwa Partai Golkar dilahirkan dengan proses yang berbeda dibandingkan partai lainnya. Ia mengingatkan bahwa Partai Golkar didirikan oleh Soekarno dengan gagasan-gagasan untuk mengatasi stabilitas setelah Pemilu 1955 yang tidak kondusif.
Pada masa itu, laju inflasi Indonesia mencapai 650 persen dan banyak masalah yang dihadapi masyarakat, termasuk kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan. Selain itu, terdapat keinginan dari kelompok tertentu untuk mengubah ideologi Pancasila menjadi komunis, yang mendorong tokoh-tokoh saat itu untuk mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar).
“Jadi saya ingin mengatakan bahwa Partai Golkar tidak dilahirkan oleh satu kelompok masyarakat tertentu, apalagi keluarga tertentu,” tegas Bahlil.
Ia menekankan bahwa setiap anggota Partai Golkar memiliki hak dan kedudukan yang sama sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) partai. “Partai Golkar adalah salah satu partai terbuka dari sekian banyak partai yang ada di Indonesia. Ini kira-kira yang membedakan partai kita,” katanya.
Lebih lanjut, Bahlil menyebutkan bahwa dalam sejarahnya, Golkar telah melahirkan banyak partai lainnya, seperti Partai Demokrat, Partai Hanura, Partai Nasdem, dan Partai Gerindra. “Golkar itu kader-kadernya sudah terlalu banyak. Tidak hanya pindah partai, sampai melahirkan partai. Apakah kita marah? Tidak, karena dalam pandangan Golkar, partai-partai itu satu rumah dengan Golkar, cuma beda kamar,” jelasnya.













