Media Kampung – BMKG telah mengkonfirmasi bahwa gempa bumi tektonik bermagnitudo 5,9 mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur pada Minggu pagi, 4 Oktober 2026. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang terkait dengan Sesar Waikabubak.
“Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal yang berasosiasi dengan Sesar Waikabubak,” ungkap Ardhasena dalam konferensi pers daring. Dia menambahkan bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.
Episenter gempa terletak pada koordinat 9,84 derajat Lintang Selatan dan 118,9 derajat Bujur Timur, yang tepatnya berlokasi di laut 59 kilometer barat daya Kodi, Sumba Barat Daya. Meskipun gempa ini cukup kuat, Ardhasena memastikan bahwa tidak ada potensi tsunami yang dihasilkan. “Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami,” tegasnya.
Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah dengan tingkat intensitas yang bervariasi. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, guncangan paling kuat tercatat mencapai skala VI MMI di beberapa daerah seperti Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi di Sumba Barat Daya. Di tempat tersebut, banyak penduduk merasakan getaran yang cukup kuat hingga berlarian keluar rumah.
Sementara itu, intensitas IV MMI tercatat di beberapa kota lain seperti Tambolaka, Waikabubak, Waibakul, dan Raba. Di Kota Tambolaka dan Waikabubak, getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Sedangkan di Kota Bima, intensitas III MMI, getaran dirasakan seakan seperti truk yang berlalu.
BMKG terus memantau situasi dan menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.














