Media Kampung, Jakarta – Seorang pilot maskapai Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman (39), diduga membawa urine cadangan untuk mengelabui tes narkoba saat diperiksa di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Penangkapan dilakukan setelah petugas Bea Cukai menemukan indikasi penyelundupan narkotika jenis ekstasi dan sabu yang dibawa oleh pilot tersebut.
Petugas Bea Cukai mencurigai gerak-gerik Mohd Saufi saat pemeriksaan X-ray bagasi di Terminal 3 Kedatangan Internasional pada malam hari tanggal 28 Juli 2026. Dalam pemeriksaan lebih lanjut di ruang Bea Cukai, ditemukan botol berisi urine yang disimpan dalam tas milik Saufi. Menurut keterangan Humas Bea Cukai Soetta, Satria Yudhatama, botol urine tersebut diduga digunakan sebagai alat untuk mengelabui tes narkoba mendadak yang mungkin dilakukan oleh pihak maskapai atau otoritas penerbangan.
“Berdasarkan informasi dari unit pengawasan, ditemukan botol berisi urine yang disiapkan sebagai antisipasi apabila dilakukan tes urine,” ujar Satria pada hari Senin, 3 Agustus 2026. Namun, botol urine ini belum sempat digunakan saat pemeriksaan berlangsung. Dari pengakuan pelaku, urine dalam botol tersebut merupakan urine sebelum yang bersangkutan mengonsumsi narkotika.
Kasus ini menjadi sorotan karena Mohd Saufi tidak hanya berperan sebagai kurir narkoba internasional yang sudah berkali-kali menyelundupkan sabu dan ekstasi, tetapi juga diketahui mengonsumsi narkoba saat sedang menerbangkan pesawat. “Jadi, pada saat terbang itu sedang memakai (narkoba),” tambah Satria.
Penangkapan ini membuka fakta baru tentang modus operandi penyelundupan narkoba yang melibatkan awak pesawat. Penggunaan urine cadangan untuk mengelabui tes narkoba menunjukkan tingkat perencanaan yang dilakukan pelaku untuk menghindari deteksi. Pihak bea cukai dan otoritas keamanan bandara terus meningkatkan pengawasan terhadap barang bawaan penumpang dan awak pesawat guna mencegah peredaran narkoba melalui jalur penerbangan.
Insiden ini juga menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan penerbangan apabila awak pesawat berada di bawah pengaruh narkotika saat menjalankan tugasnya. Regulasi ketat dan pemeriksaan menyeluruh menjadi kunci utama untuk menjamin keamanan penerbangan dan mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan transportasi udara.
Pihak terkait masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap jaringan yang terlibat dalam kasus ini dan memastikan tidak ada pihak lain yang terlibat dalam penyelundupan narkoba tersebut.















Tinggalkan Balasan