Media Kampung – Bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets mengalami peningkatan pada Juli 2026 setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan. Kenaikan ini terjadi di tengah koreksi yang dialami oleh saham bertema kecerdasan buatan dan penurunan pasar saham Korea Selatan.
Menurut riset dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets stabil di kisaran 0,5% pada Juli 2026, naik dari titik terendah 0,4% pada bulan Juni 2026. Sebelumnya, bobot ini sempat mencapai 1,2% pada Desember 2025. Kenaikan bobot ini didukung oleh pemulihan kinerja pasar saham Indonesia yang tercermin dari kenaikan indeks MSCI Indonesia sebesar 12,5% secara month-to-date (MTD), sementara indeks MSCI Emerging Markets secara keseluruhan mengalami penurunan 4%.
Tekanan pada indeks MSCI Emerging Markets disebabkan oleh melambatnya saham-saham bertema kecerdasan buatan dan penurunan tajam pasar saham Korea Selatan sebesar 21,6%. Selain itu, aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia menurun menjadi Rp 4,1 triliun secara MTD, dibandingkan rata-rata bulanan Rp 12,3 triliun selama semester pertama tahun 2026.
Riset Mirae Asset juga menyoroti bahwa pemulihan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets sangat bergantung pada pencabutan kebijakan pembekuan (freeze) yang masih berlaku saat ini. Kebijakan tersebut membatasi penambahan emiten baru maupun kenaikan status emiten di dalam indeks.
MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil tinjauan kuartalan pada 13 Agustus 2026 dengan efek yang berlaku mulai penutupan perdagangan 31 Agustus 2026. Prediksi dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyatakan tidak akan ada penambahan emiten baru atau kenaikan status karena kebijakan pembekuan masih diterapkan. Selain itu, kriteria penyaringan untuk saham dengan lonjakan harga ekstrem (Extreme Price Increase/EPI) dianggap tidak relevan selama kebijakan pembekuan berlangsung.
Kenaikan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets memberikan sinyal positif bagi pasar modal Indonesia, terutama di tengah tantangan pasar global yang tengah mengalami koreksi. Hal ini berpotensi menarik minat investor asing untuk kembali berinvestasi di pasar saham Indonesia, mendukung stabilitas dan pertumbuhan pasar modal domestik.














Tinggalkan Balasan