Media Kampung, Iran kembali melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, menargetkan fasilitas di Arab Saudi dan Bahrain pada akhir pekan ini. Eskalasi ini terjadi setelah gencatan senjata yang disepakati pada pertengahan Juni lalu mulai runtuh akibat saling serang yang meningkat sejak pekan kedua Juli.
Pada Sabtu (18/7), media AS Axios melaporkan bahwa Iran menembakkan sebuah rudal balistik ke pangkalan militer AS di Arab Saudi. Ini merupakan serangan langsung pertama Teheran terhadap Riyadh dalam hampir empat bulan. Otoritas pertahanan sipil Saudi sempat mengeluarkan peringatan dini untuk kota Al-Kharj dan Yanbu, namun kemudian menyatakan bahaya telah berlalu tanpa memberikan rincian. Pemerintah Saudi belum mengonfirmasi atau membantah laporan tersebut.
Sehari sebelumnya, Jumat (17/7), militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Sakhir di Bahrain. Menurut penyiaran negara Iran IRIB, Angkatan Darat Iran menggunakan drone Arash untuk menyerang lokasi penempatan helikopter militer AS dan pesawat patroli maritim P-8. Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi bunyi sirene serangan udara dan meminta warga tetap tenang serta menuju tempat aman.
Serangan-serangan ini merupakan bagian dari fase ke-11 operasi ‘Saegheh’ yang dilakukan Iran sebagai balasan atas serangan AS yang menargetkan infrastruktur sipil dan warga sipil Iran. Militer Iran berjanji akan memberikan tanggapan cepat dan tegas terhadap setiap tindakan permusuhan lebih lanjut.
Ketegangan di Selat Hormuz kembali memanas setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada pertengahan Juni lalu mulai goyah. Presiden AS Donald Trump pada 9 Juli menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut sudah tidak berlaku lagi. Sejak itu, kedua pihak saling melancarkan serangan hampir setiap hari. AS melakukan enam malam berturut-turut serangan ke fasilitas militer Iran di sepanjang pantai selatan Iran, termasuk di Pulau Qeshm dan dekat Bandar Abbas. Iran membalas dengan rudal dan drone ke pangkalan AS di negara-negara Teluk, termasuk Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Serangan terbaru ini menandai eskalasi signifikan setelah periode relatif tenang pasca-gencatan senjata. Dampaknya mulai terasa pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis untuk pengiriman minyak dan gas dunia, yang kembali terganggu dan berpotensi mendorong kenaikan harga energi global.






















Tinggalkan Balasan