Media KampungIran memberlakukan pengawasan ketat di Selat Hormuz dengan memasang pos pemeriksaan di pulau-pulau strategis dan melakukan pengaturan rute pelayaran kapal yang melintas. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya gangguan pada jalur perdagangan minyak global yang sangat bergantung pada perairan tersebut.

Selat Hormuz menjadi jalur penting karena menghubungkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Pengawasan baru ini melibatkan pemeriksaan kapal oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memastikan bahwa kapal yang melintas tidak memiliki hubungan dengan Amerika Serikat maupun Israel. Selain itu, pemeriksaan juga bertujuan mengantisipasi aktivitas ilegal seperti penyelundupan.

Dalam pelaksanaannya, beberapa kapal harus mengikuti rute pelayaran yang telah ditetapkan dan berhenti di pos-pos militer untuk pemeriksaan. Proses ini dapat memperpanjang waktu transit kapal dari biasanya lima jam menjadi hingga dua hari. Bahkan, beberapa kapal dikabarkan diminta membayar biaya tertentu sebagai syarat izin melintas, meskipun mekanisme pembayaran tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen dan dianggap kurang transparan.

Iran juga memberikan prioritas kepada kapal dari negara-negara yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Teheran, sedangkan kapal dari negara lain harus melalui kesepakatan diplomatik terlebih dahulu untuk memperoleh izin melintas. Amerika Serikat sendiri telah memperingatkan bahwa pihak yang terlibat dalam pembayaran kepada Iran berisiko menghadapi sanksi, namun sejumlah operator kapal tetap mengikuti prosedur itu demi kelancaran perjalanan.

Akibat kebijakan baru ini, arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz menurun signifikan dibandingkan periode sebelum konflik berlangsung. Penurunan volume kapal yang melintas menimbulkan tekanan tambahan terhadap pasar energi dunia dan memperbesar ketidakpastian pasokan minyak global.

Situasi terkini menunjukkan bahwa Iran terus memperkuat kendali atas jalur strategis ini melalui sistem pengawasan yang melibatkan aspek militer dan diplomasi. Kondisi tersebut menjadi perhatian internasional mengingat peran vital Selat Hormuz dalam perdagangan energi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.