Media KampungBlokade yang terjadi di Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan memburuknya krisis kelaparan di berbagai negara, khususnya yang masih berkembang. Gangguan di jalur perdagangan vital ini menyebabkan kenaikan harga energi yang berimbas langsung pada biaya pangan global.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama pengiriman energi, petrokimia, dan pupuk dunia. Namun, dengan adanya blokade yang menyebabkan ratusan kapal tertahan, pasokan bahan bakar dan pupuk terganggu. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi yang berimplikasi pada naiknya biaya produksi pupuk, bahan kimia pertanian, serta transportasi makanan.

Sabine Minninger, penasihat kebijakan senior dari organisasi Bread for the World, menyoroti dampak negatif dari konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut. Ia menegaskan bahwa negara-negara Afrika menjadi yang paling rentan terdampak akibat kenaikan harga dan keterbatasan pasokan. Selain itu, krisis kelaparan semakin diperparah oleh perang yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel.

Program Pangan Dunia (WFP) juga memperingatkan bahwa jutaan orang berisiko mengalami kelaparan akut jika harga bahan bakar dan pupuk terus melonjak. Minninger menambahkan bahwa ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil menjadi salah satu penyebab utama kerentanan ketahanan pangan saat ini.

Dalam situasi ini, kelompok bantuan kemanusiaan menyerukan percepatan transisi ke energi terbarukan dan peningkatan dukungan pendanaan serta teknologi dari negara-negara maju kepada negara berkembang. Namun, hingga kini, dukungan pendanaan iklim internasional dari negara maju dinilai belum maksimal, dengan kritik tajam dari Oxfam Deutschland terhadap kebijakan pendanaan iklim Amerika Serikat.

Kelompok iklim di Jerman turut mendesak pemerintah untuk mempercepat penggunaan energi ramah lingkungan dan menguatkan kerja sama internasional guna menghadapi tantangan krisis iklim dan energi global yang terus memburuk.

Sampai saat ini, kondisi di Selat Hormuz masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, sementara dampak penyumbatan jalur perdagangan ini terus dirasakan secara luas, terutama oleh negara-negara yang bergantung pada impor bahan pangan dan energi. Perkembangan situasi ini menjadi perhatian penting bagi komunitas internasional dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan dunia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.