Media Kampung, Busan — Bagi Lee Yeon-su, seorang pengungsi Korea Utara, menonton konser BTS di Busan adalah pengalaman yang tak terlupakan. Ia bisa berteriak, melompat, dan bernyanyi bersama ribuan penggemar lainnya tanpa rasa takut. “Setiap kali saya datang ke konser BTS, saya menyadari betapa bahagianya saya bisa menyukai dan mendukung seseorang atas kehendak bebas saya sendiri,” katanya. “Itu tidak terbayangkan di Korea Utara.”

Yeon-su lahir di Korea Utara, sebuah negara yang menutup diri dari dunia luar. Rezim yang berkuasa mengawasi ketat setiap gerak warga, dan mendengarkan musik dari Korea Selatan adalah tindakan kriminal yang bisa berujung hukuman penjara atau lebih buruk. Namun, sejak melarikan diri pada tahun 2011, Yeon-su menemukan dunia baru melalui K-pop.

Baca juga:

Bagi banyak pengungsi Korea Utara, K-pop menjadi jembatan untuk beradaptasi dengan kehidupan di Korea Selatan. Musik yang ceria, koreografi yang energik, dan lirik yang berbicara tentang kebebasan dan mimpi sangat kontras dengan propaganda yang selama ini mereka dengar. “Di Korea Utara, Anda harus dipilih untuk menghadiri acara, dan jika tidak, Anda harus tinggal di rumah dengan tirai tertutup,” kenang Yeon-su.

Baca juga:

Kini, ia bisa bebas memilih idolanya. Dalam konser BTS, ia menyanyikan lagu-lagu favoritnya seperti “Fire” dan “Mic Drop” dengan penuh semangat. Bagi Yeon-su, K-pop bukan sekadar hiburan, melainkan simbol kebebasan yang selama ini ia impikan.

Baca juga: