Media Kampung, Sebuah perusahaan yang selama ini dikenal sebagai pengelola jaringan restoran ayam di Malaysia mendadak menjadi sorotan setelah berhasil memperoleh kontrak bisnis data center senilai 50 juta dolar AS atau sekitar Rp900 miliar. Kabar ini mengejutkan banyak pihak karena bisnis utama perusahaan tersebut tidak berkaitan dengan teknologi maupun pusat data.

Perusahaan yang dimaksud adalah CCH Holdings (CCHH), operator restoran Chicken Claypot House yang berbasis di Penang, Malaysia. Alih-alih mengumumkan pembukaan cabang baru, perusahaan justru mengungkap kerja sama besar di sektor infrastruktur teknologi.

Kontrak Bernilai Rp900 Miliar

Melalui pengumuman resmi, CCH Holdings menandatangani kontrak layanan data center selama tiga tahun. Nilai kerja sama tersebut mencapai 50 juta dolar AS, atau sekitar Rp900 miliar. Kontrak akan dijalankan oleh anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki CCH Holdings.

Apa yang Akan Dikerjakan?

Meski dikenal sebagai perusahaan restoran, layanan yang diberikan dalam kontrak ini cukup kompleks. Beberapa tugas yang akan dijalankan antara lain:

  • Pemeliharaan dan dukungan operasional data center
  • Penyediaan kapasitas komputasi
  • Koordinasi implementasi proyek
  • Konsultasi teknis
  • Layanan pendampingan operasional

Menariknya, ruang lingkup kerja sama tersebut juga dapat diperluas ke negara lain apabila klien melakukan ekspansi pusat data di kawasan Asia maupun wilayah lainnya.

Siapa Kliennya?

Identitas pelanggan yang memberikan kontrak bernilai fantastis tersebut belum diungkap. Perusahaan menyatakan seluruh pihak terikat perjanjian kerahasiaan (NDA). Dalam industri data center, praktik seperti ini cukup umum karena banyak perusahaan teknologi tidak ingin informasi mengenai infrastruktur digital mereka diketahui publik.

Bisnis Restoran, Tapi Terdaftar di Nasdaq

Hal lain yang membuat kisah ini semakin menarik adalah status CCH Holdings. Meski mengelola jaringan restoran ayam di Malaysia, perusahaan tersebut ternyata telah terdaftar di bursa saham Nasdaq Amerika Serikat, tempat saham perusahaan teknologi besar seperti Apple, Microsoft, Nvidia, hingga Amazon diperdagangkan.

Namun dari sisi bisnis, skala perusahaan masih tergolong kecil. Pada tahun buku 2025, CCH Holdings membukukan pendapatan sekitar 9,59 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp42 miliar) dan kerugian bersih sekitar 2,68 juta ringgit (sekitar Rp11,8 miliar). Karena itu, kontrak senilai Rp900 miliar dianggap sebagai lompatan bisnis yang sangat besar dibanding pendapatan perusahaan selama ini.

Kenapa Restoran Bisa Masuk Bisnis Data Center?

CEO CCH Holdings, Goh Kok E, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi perusahaan. Menurutnya, perusahaan ingin memperluas bisnis ke sektor infrastruktur digital tanpa meninggalkan usaha restoran yang telah berjalan. Artinya, Chicken Claypot House tetap akan beroperasi seperti biasa, sementara perusahaan membuka sumber pendapatan baru dari industri teknologi. Strategi ini juga dinilai sebagai langkah untuk memanfaatkan pertumbuhan pesat industri AI dan kebutuhan pusat data di Asia Tenggara.

Malaysia Sedang Kebanjiran Investasi Data Center

Masuknya CCH Holdings ke industri data center bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia menjadi salah satu tujuan utama pembangunan pusat data di Asia. Wilayah Johor, yang berbatasan langsung dengan Singapura, menjadi lokasi favorit berbagai perusahaan teknologi global. Beberapa perusahaan yang telah mengumumkan investasi data center di Malaysia antara lain Google, Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan ByteDance.

Pertumbuhan tersebut dipicu meningkatnya kebutuhan komputasi AI, sementara Singapura mulai membatasi pembangunan data center baru karena keterbatasan pasokan listrik. Akibatnya, banyak investor mengalihkan proyek mereka ke Malaysia.

Apakah Ini Tren Baru?

Fenomena perusahaan dari industri berbeda masuk ke bisnis teknologi sebenarnya mulai sering terjadi. Seiring berkembangnya kecerdasan buatan (AI), cloud computing, dan layanan digital, kebutuhan akan data center meningkat sangat cepat. Perusahaan yang mampu menyediakan layanan pendukung infrastruktur digital memiliki peluang memperoleh kontrak bernilai besar, meski sebelumnya tidak dikenal sebagai pemain industri teknologi.

Bagi CCH Holdings, kontrak Rp900 miliar ini bisa menjadi awal transformasi perusahaan dari operator restoran menjadi perusahaan dengan dua lini bisnis sekaligus: kuliner dan infrastruktur digital.

Kisah CCH Holdings menunjukkan bahwa peluang bisnis bisa datang dari sektor yang tidak terduga. Perusahaan yang selama ini identik dengan restoran ayam kini berhasil memperoleh kontrak data center senilai sekitar Rp900 miliar, jauh melampaui skala bisnis kulinernya. Jika strategi diversifikasi ini berhasil, CCH Holdings berpotensi menjadi contoh unik perusahaan kuliner yang sukses berekspansi ke bisnis teknologi.