Media Kampung – Dua grup konglomerasi besar, Grup Sinarmas dan Grup Arsari milik Hashim Djojohadikusumo, tengah gencar melakukan ekspansi di sektor telekomunikasi dan data center. Keduanya berlomba membangun infrastruktur untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi.

Ekspansi Grup Sinarmas Melalui DSSA

Grup Sinarmas melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu pemain paling agresif. Meski bisnis utamanya masih batu bara (86% pendapatan), segmen telekomunikasi dan teknologi memberikan kontribusi laba kotor tertinggi dengan margin 66% pada kuartal I-2026.

DSSA melakukan sejumlah aksi korporasi besar:

  • Merger EXCL dan FREN: Melalui anak usahanya, DSSA menguasai 32% saham EXCL pasca merger dengan FREN pada April 2025. Kini EXCL dimiliki bersama Axiata (34%).
  • Merger My Republic dan MORA: Penyedia internet My Republic digabung dengan perusahaan infrastruktur MORA pada awal 2026. Hasilnya, aset fiber optik melonjak menjadi 116.000 km, kapasitas homepass 11 juta sambungan, dan basis pelanggan 2,2 juta. MORA juga memiliki 6 fasilitas data center dengan kapasitas 3,3 MW.
  • Akuisisi KETR: DSSA melalui PT Inti Mas Bangun Sejahtera mengincar PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR), perusahaan infrastruktur kabel laut. Proses tender offer masih berlangsung hingga Agustus 2026.
  • Akuisisi Bali Media Telekomunikasi: Dibeli 100% senilai Rp4 triliun pada Juli 2026. Meski merugi Rp898 miliar, akuisisi ini memberikan eksposur 24% saham EXCL.

Di bidang data center, DSSA melalui PT SMPlus Digital Investama mengelola 25 data center di 24 kota dengan total kapasitas 10 MW. Selain itu, DSSA bekerja sama dengan KIRA SG One Pte. Ltd (bagian dari Korea Investment Real Asset Management) mengembangkan data center berstandar internasional untuk AI dan cloud computing. Kapasitas awal 18 MW, ditargetkan mencapai 60 MW. Proyek ini dijadwalkan beroperasi akhir 2026, dengan progres pembangunan 24% hingga Desember 2025.

Ekspansi Grup Arsari: WIFI dan Akuisisi Fiber Optik ISAT

Grup Arsari mulai bergerak pada 2024 dengan menggandeng PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Awalnya, Grup Arsari berminat investasi di anak usaha WIFI. Enam bulan kemudian, bersama Arwin Rasyid dan Fadel Muhammad, mereka mengakuisisi pengendali WIFI, PT Investasi Sukses Bersama.

WIFI kemudian memenangkan lelang frekuensi 1,4 GHz untuk Fixed Wireless Access (FWA) dan menjalankan program Internet Rakyat. Untuk mendanai ekspansi, WIFI melakukan right issue Rp5,9 triliun pada Juli 2025 dan menerbitkan obligasi serta sukuk ijarah hingga Rp5 triliun (tahap awal Rp2,5 triliun).

Selain itu, Grup Arsari mengakuisisi aset fiber optik milik PT Indosat Tbk (ISAT). Melalui PT Ainfrastruktur Indonesia Raya, mereka mendirikan PT Nusantara Fiber Teknologi yang mengakuisisi 84,9% saham PT Infra Fiber Teknologi. Perusahaan ini memiliki 86.000 km fiber optik, meliputi backbone, kabel laut domestik, dan jaringan akses. Model open access-nya dirancang untuk menjalin kemitraan wholesale dengan operator, korporasi, dan hyperscaler. ISAT masih memiliki 49,9% aset fiber optik tersebut secara tidak langsung.

Di sisi data center, WIFI mengklaim telah membangun 58 edge data center di stasiun utama Pulau Jawa dengan tier-2. Namun, detail lebih lanjut belum tersedia dalam laporan tahunan 2025.

Persaingan Menuju Infrastruktur AI

Baik DSSA maupun Grup Arsari sama-sama mengincar peluang dari belanja modal AI yang diproyeksikan besar. Mereka membangun infrastruktur telekomunikasi dan data center untuk menyediakan layanan pendukung AI. Jika realisasi investasi AI global mengalir ke Indonesia, kedua grup ini berpotensi meraih keuntungan.

Di luar keduanya, Grup Djarum melalui PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga tak ketinggalan. Anak usahanya, Iforte, berencana membangun data center 10 MW secara bertahap. TOWR memiliki 185.000 km fiber optik dan 36.247 menara telekomunikasi, serta agresif mengakuisisi perusahaan fiber dan menara dalam 4 tahun terakhir.

Namun, risiko tetap ada. Jika gelembung AI benar-benar terjadi dan belanja modal menurun, momentum saham-saham yang berekspansi di sektor ini bisa hilang dan menekan harga.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.