Media Kampung – Saham PTBA (PT Bukit Asam Tbk) menjadi sorotan di pasar modal setelah aksi jual besar-besaran oleh investor domestik terjadi pada 12 Juni 2026. Investor lokal tercatat melakukan net sell hingga Rp19 miliar, sedangkan investor asing justru menyerap saham yang sama dengan net buy senilai Rp19 miliar. Aksi ini dipicu oleh keputusan PTBA yang hanya membagikan dividen sebesar 45 persen dari laba bersih, turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 75 persen.
Dengan payout ratio 45 persen, dividen per saham (DPS) PTBA menjadi Rp114 per saham. Jika mengacu pada harga penutupan 12 Juni 2026, dividen yield yang dihasilkan hanya sekitar 4 persen. Angka ini dinilai kurang menarik bagi investor lokal yang mengincar pendapatan dividen tinggi, sehingga mereka memilih melepas sahamnya. Namun, investor asing justru melihat peluang jangka panjang di balik penurunan dividen ini.
Ekspansi Tiga Proyek Jadi Alasan Dividen Dipangkas
PTBA memutuskan menahan lebih banyak laba untuk mendanai tiga proyek besar yang membutuhkan belanja modal jumbo. Proyek pertama adalah pembangunan jalur kereta api pengangkutan batu bara Tanjung Enim-Kramasan di Sumatera Selatan. Proyek ini menelan belanja modal sekitar Rp5 triliun sejak 2025, dengan realisasi Rp1,5 triliun pada tahun tersebut dan potensi tambahan Rp3 triliun hingga pertengahan 2026. Hampir seluruh belanja modal PTBA tahun 2026 sebesar Rp3,6 triliun dialokasikan untuk proyek ini. Hingga kuartal I-2026, PTBA telah mengeluarkan Rp467 miliar untuk pembangunan jalur kereta yang ditargetkan rampung pada kuartal III-2026.
Proyek kedua adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 1,25 GW di Kalimantan Barat untuk mendukung smelter aluminium MIND ID. PTBA akan memasok batu bara hingga 5,5 juta ton per tahun ke PLTU tersebut. Namun, proyek ini masih dalam tahap pencarian mitra teknologi dan investor, dengan target final investment decision (FID) pada akhir 2026 dan konstruksi dimulai 2027.
Proyek ketiga adalah pengembangan dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG di Muara Enim, Sumatera Selatan. Proyek ini sebelumnya sempat terhenti karena mundurnya investor asal AS. Kini, PTBA bersama Pertamina kembali melanjutkan proyek dengan kapasitas produksi 1,4 juta ton DME per tahun. FID ditargetkan pada kuartal III-2027, dengan groundbreaking pada kuartal I-2028. PTBA akan bertindak sebagai operator pabrik dan pemasok batu bara, sedangkan Pertamina menjadi pembeli produk DME.
Prospek Saham PTBA: Kunci Efisiensi dan Pertumbuhan
Jalur kereta Tanjung Enim-Kramasan menjadi proyek paling krusial karena diyakini mampu meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan batu bara, yang pada akhirnya mempertebal margin laba bersih PTBA. Infrastruktur ini juga akan mendukung efisiensi biaya produksi DME. Namun, analis masih menunggu kajian detail mengenai besaran efisiensi yang bisa dicapai.
Sementara itu, proyek PLTU di Kalimantan Barat memberikan kepastian permintaan batu bara sebesar 5 juta ton per tahun, namun dengan harga DMO (Domestic Market Obligation) sekitar 70 dolar AS per ton. Jika harga batu bara global naik di atas 150 dolar AS per ton, margin keuntungan dari proyek ini bisa tertekan karena mengurangi porsi ekspor yang lebih menguntungkan.
Menurut analis, saham PTBA tetap menarik jika harga saham berada di bawah Rp2.500 per saham. Dengan dividen yield yang kurang menggoda, investor yang tertarik pada prospek ekspansi jangka panjang disarankan menunggu setelah ex-dividen untuk mendapatkan harga lebih diskon.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan