Media Kampung – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel akan menggabungkan dua anak usahanya, PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) dan PT Persada Sokka Tama (PST), ke dalam perusahaan induk. Rencana ini akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2026 dan ditargetkan efektif mulai 1 Juli 2026.
Seluruh aset, liabilitas, kontrak, hak, dan kewajiban kedua perusahaan akan beralih ke Mitratel. PST memiliki aset sekitar Rp1,69 triliun di bidang konstruksi menara, sedangkan UMT memiliki aset sekitar Rp425,8 miliar di bidang sistem data dan telekomunikasi. Karena kedua anak usaha dimiliki 100% oleh MTEL, aksi ini tidak mengubah struktur kepemilikan atau menyebabkan dilusi bagi pemegang saham publik.
Merger ini bertujuan menciptakan organisasi yang lebih ramping, memangkas birokrasi, dan mempercepat pengambilan keputusan. Selain efisiensi, MTEL juga akan memperluas kegiatan usaha ke layanan Internet Service Provider (ISP), Internet of Things (IoT), penyediaan tenaga kerja teknis, dan aktivitas telekomunikasi lainnya. Langkah ini menandai transisi Mitratel dari penyedia menara menjadi penyedia infrastruktur digital yang lebih lengkap.
Waktu merger bertepatan dengan lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Proses lelang yang dimulai April 2026 kini memasuki tahap akhir evaluasi administrasi, dengan tiga operator besar—Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), serta XL Axiata–Smartfren—sebagai peserta utama. Pemenang lelang diwajibkan membangun jaringan baru (rollout obligation), yang akan mendorong pembangunan BTS, penambahan menara, kolokasi, dan jaringan fiber optik.
Spektrum 700 MHz memiliki jangkauan luas, cocok untuk memperluas jaringan di daerah pedesaan dan wilayah 3T. Sementara 2,6 GHz berkapasitas besar, ideal untuk meningkatkan kapasitas di kota besar dan mempercepat implementasi 5G. Dampak bagi emiten tower diperkirakan mulai terlihat pada pertengahan hingga akhir 2027, setelah operator menyelesaikan pembangunan jaringan.
Bagaimana posisi MTEL dibandingkan TOWR dan TBIG? Berdasarkan data kuartal I-2026, MTEL memimpin dari sisi skala dengan 40.327 menara dan 63.333 tenant. Rasio tenancy MTEL sebesar 1,57 kali, masih memiliki ruang untuk peningkatan. Leverage MTEL relatif rendah, memberi ruang ekspansi. Sementara TOWR memiliki diversifikasi melalui fiber dan FTTH, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba yang solid, namun leverage lebih tinggi. TBIG unggul dalam tenancy ratio (1,70 kali) yang mencerminkan efisiensi monetisasi aset, meski leverage juga lebih tinggi.
Ketiga emiten diperkirakan sama-sama diuntungkan dari hasil lelang frekuensi. MTEL cocok bagi investor yang mengutamakan skala besar dan neraca kuat. TOWR menawarkan diversifikasi dan valuasi lebih murah. TBIG menonjol dari efisiensi operasional. Pilihan tergantung profil risiko dan preferensi masing-masing investor.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan