Media Kampung – Belakangan ini, keluhan soal sering mati lampu ramai di media sosial, terutama dari warga di Pulau Jawa hingga Bali. Fenomena pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dalam sepekan ini memicu pertanyaan besar di masyarakat tentang penyebabnya.
Pengamat sistem tenaga listrik dari STEI Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, mengungkapkan ada dua faktor utama di balik seringnya pemadaman listrik akhir-akhir ini. Faktor pertama adalah force outage, yaitu gangguan mendadak pada sistem kelistrikan yang tidak direncanakan. Faktor kedua adalah derating, yakni kebijakan menurunkan kapasitas produksi listrik secara sengaja.
Menurut Kevin, derating dilakukan untuk menjaga ketersediaan cadangan bahan bakar. Stok batu bara dan minyak untuk operasional pembangkit listrik saat ini mengalami penurunan. Operator pembangkit memilih menurunkan daya operasi hingga sekitar 60 persen dari kapasitas maksimal agar pasokan bahan bakar tidak habis.
Ia menjelaskan, jika pembangkit dipaksa beroperasi penuh saat bahan bakar menipis, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) butuh waktu hingga dua hari untuk menyala kembali setelah bahan bakar habis. “Jika dipaksa 100% dan bahan bakar itu habis, PLTU butuh waktu hingga dua hari untuk menyala kembali,” ujar Kevin dalam unggahan resmi Instagram ITB.
Selain itu, Kevin menambahkan bahwa setiap jaringan kelistrikan harus memiliki cadangan daya untuk mengantisipasi gangguan tak terduga. Ketika permintaan listrik berada pada beban puncak, pemadaman bergilir kerap menjadi pilihan yang terpaksa diambil.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari PLN terkait langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi pemadaman listrik yang marak terjadi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan