Media Kampung – Riset akademik pertama di dunia berhasil merekonstruksi peran Soekarno pada penemuan makam Imam Bukhari di Uzbekistan. Penelitian ini dipresentasikan di Imam Bukhari International Scientific Research Center, Samarkand pada Kamis (4/6) dan dihadiri Direktur Prof Shovosil Ziyodov serta ilmuwan di lingkungan Imam Bukhari Complex.
Peneliti dari Institut Ilmu Al Quran (IIQ) Jakarta, Eka Triyatna Shanty, bersama Dr Samsul Ariyadi memaparkan temuan bahwa Presiden Soekarno menjadikan pemugaran makam Imam Bukhari sebagai syarat mutlak sebelum bersedia melakukan kunjungan ke Uni Soviet pada tahun 1956. Soekarno bersikeras dengan tuntutan tersebut sebelum akhirnya bertemu dengan pemimpin Soviet, Khrushchev.
Riset ini mencatat bahwa ketertarikan Soekarno terhadap warisan Imam Bukhari bukanlah kebetulan. Pandangan religius dan pencerahannya, sikapnya terhadap ilmu hadis, serta rasa hormatnya terhadap nilai-nilai Islam menjadi fondasi penting yang berawal dari pengasingan kolonialisme Belanda pada 1936.
Lebih lanjut, rasa hormat Soekarno terhadap Sahih al-Bukhari turut mempengaruhi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, rancangan Monumen Nasional, hingga Masjid Istiqlal. Uni Soviet merespons secara taktis dengan membuka makam Imam Bukhari untuk Soekarno pada Maret 1956, namun kebijakan itu hanya bersifat etalase diplomatik karena pada Desember 1959 mereka menutup ribuan madrasah dan masjid.
Imam Bukhari International Scientific Research Center secara resmi merilis berita tentang riset ini di laman bukhari.uz dengan judul ‘Presentation of new Research on the History of the Imam Bukhari Mausoleum’. Lembaga tersebut menyebutnya sebagai pendekatan ilmiah baru dan mengakui bahwa studi ini merupakan penelitian sistematis pertama yang berhasil merekonstruksi kebijakan Uni Soviet terhadap makam Imam Bukhari.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan