Media Kampung – Pembangunan Jembatan Perintis Garuda yang menghubungkan Desa Sumbersalak, Kecamatan Curahdami, dan Desa Wonosari, Kecamatan Grujugan, di Bondowoso mulai menunjukkan kemajuan dan disambut dengan antusias oleh warga setempat. Proyek jembatan gantung sepanjang 20 meter ini menjadi harapan baru setelah bertahun-tahun masyarakat harus bergantung pada jembatan bambu yang sering rusak terutama saat musim hujan.
Selama ini, jembatan bambu swadaya yang menjadi akses utama warga kerap hanyut diterjang banjir. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga terutama di bidang pertanian, pendidikan, dan ekonomi menjadi terganggu. “Kadang-kadang waktu musim hujan terus di bawah itu digerus. Akhirnya jembatan itu roboh,” ungkap Bahrawi, salah satu warga yang mengalami langsung kesulitan tersebut.
Warga terpaksa melakukan perbaikan secara gotong royong hampir tiap tahun dengan menggunakan kayu bambu yang jumlahnya bisa mencapai seratus pohon. Dalam tahun ini saja, jembatan bambu tersebut telah mengalami kerusakan dua kali akibat banjir yang deras. Ketika jembatan putus, mobilitas warga menjadi terhambat, termasuk anak-anak yang harus menempuh jarak lebih jauh atau menghadapi risiko menyeberangi sungai secara langsung untuk bersekolah.
Bahrawi juga menambahkan, banyak anak dari Desa Wonosari yang sebelumnya bersekolah di Desa Sumbersalak dan sebaliknya memilih pindah sekolah karena kendala jembatan yang sering rusak. Dampak lainnya dirasakan para petani yang memiliki lahan di desa seberang sungai, yang harus menunggu hingga air surut selama berhari-hari agar bisa mengakses sawah mereka. “Kadang-kadang selama lima hari, tujuh hari tidak ke sana,” jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Tim Teknis Jembatan Perintis Garuda, Agung Kris, memaparkan bahwa jembatan yang sedang dibangun menggunakan struktur gantung dengan alas kayu mahoni. Jembatan ini dirancang dengan panjang 20 meter dan lebar 1,20 meter, khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengguna sepeda motor, sehingga lebih aman dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari.
Pembangunan jembatan ini juga melibatkan tenaga kerja dari warga sekitar, terutama untuk pekerjaan pondasi dan pemasangan batu. “Kalau untuk pekerja batunya kita menggunakan orang setempat,” ujar Agung Kris. Keterlibatan warga diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan sekaligus memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi masyarakat sekitar.
Dengan adanya Jembatan Perintis Garuda, warga di perbatasan Desa Sumbersalak dan Desa Wonosari berharap akses transportasi menjadi lebih mudah dan aman. Proyek ini menjadi solusi nyata atas persoalan infrastruktur yang selama ini menghambat berbagai aktivitas warga, terutama dalam sektor pendidikan dan pertanian.
Perkembangan pembangunan jembatan ini terus dipantau oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat agar dapat segera berfungsi optimal. Keberadaan jembatan gantung ini dipandang sebagai langkah penting untuk meningkatkan kualitas hidup warga serta mendukung kemajuan wilayah perbatasan di Bondowoso.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan