Media KampungBondowoso – Tradisi penajaman keris dalam rangka menyambut 1 Suro 1959 Jawa atau Tahun Baru Islam 1448 Hijriah berlangsung meriah di Pendopo Agung Panembahan Cakradipuro, Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso. Kegiatan yang baru memasuki tahun kedua ini diserbu oleh para pecinta dan kolektor keris dari berbagai daerah, menunjukkan antusiasme yang terus meningkat terhadap warisan budaya Nusantara.

Sejak pagi, puluhan keris yang akan dijamas sudah berjejer rapi di lokasi. Berbagai uborampe seperti bubur suro lima warna, bunga sedap malam, buah-buahan, dan degan (kelapa muda) turut disiapkan sebagai bagian dari prosesi tradisi. Asrum Setiawan dari Pataka Surabaya selaku Induk Paguyuban Senapati Nusantara menjelaskan bahwa penjamasan keris lazim dilakukan pada waktu yang dianggap sakral, yaitu mulai malam 1 Suro hingga 10 hari setelahnya.

Prosesi penjamasan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari membersihkan bilah keris dengan sabun, pencelupan, pemijatan, hingga pengeringan. Selain itu, digunakan air warangan untuk menampilkan kembali pamor atau guratan khas pada bilah keris. “Ada proses perendaman pusaka dan penyiraman dengan air mawar juga,” ujar Asrum. Menurutnya, minat masyarakat terhadap kegiatan ini terus meningkat. Pada pelaksanaan perdana tahun lalu, jumlah pusaka yang dijamas mencapai sekitar 200 bilah. Sementara tahun ini, hanya dalam beberapa jam pertama sudah tercatat sekitar 80 keris yang masuk untuk dirawat. “Ini belum termasuk yang dari luar kota. Insyaallah nanti malam mereka datang lagi,” imbuhnya.

Asrum menegaskan, penjamasan keris bukan semata-mata ritual bernuansa mistis sebagaimana anggapan sebagian masyarakat. Tujuan utama kegiatan ini adalah perawatan benda pusaka agar tidak mengalami korosi atau karat. Selain penjamasan tahunan, keris juga perlu mendapatkan perawatan rutin dengan pemberian minyak khusus agar kondisi bilah tetap terjaga. Lebih jauh, ia menilai penjamasan menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian warisan budaya Nusantara yang diwariskan para leluhur. “Untuk melestarikan budaya supaya tidak punah. Insyaallah sekarang banyak anak muda yang mulai suka keris,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik Pendopo Agung Panembahan Cakradipuro, Irwan DAcademy, mengaku sengaja menyediakan tempatnya untuk mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan lokasi penjamasan dapat memudahkan masyarakat Bondowoso yang memiliki dan mencintai keris dalam melakukan perawatan pusaka. Ia menilai keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan memiliki nilai sejarah, seni, dan spiritual yang tinggi sehingga layak dijaga keberadaannya oleh generasi muda. “Penjamasan ini untuk memudahkan masyarakat Bondowoso yang mencintai keris,” terangnya. Irwan sendiri dikenal sebagai kolektor benda pusaka yang memiliki puluhan koleksi keris. Beberapa di antaranya merupakan warisan yang diterimanya langsung dari sesepuh Keraton Sumenep dan Keraton Solo. Salah satu koleksi favoritnya adalah keris Dhapur Mundarang dengan pamor Beras Wutah peninggalan era Hamengkubuwono III. “Sampai detik ini, Irwan berkomitmen menjaga adat budaya peninggalan sesepuh,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.