Media Kampung – Sekolah Rakyat (SR) di Kota Blitar akan menampung sekitar 150 siswa titipan dari Kota Batu dan Kota Malang pada tahap awal operasional yang dijadwalkan berlangsung Juli atau Agustus mendatang. Sekolah berbasis asrama ini tidak hanya melayani siswa dari wilayah sendiri, tetapi juga menjadi tempat belajar sementara bagi siswa dari daerah lain yang masih menjalani program rintisan.
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar, Ika Atikah, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan keputusan Kementerian Sosial (Kemensos) yang tertuang dalam surat resmi pada Mei lalu. Dalam skema itu, sebanyak 90 siswa jenjang SMP dari Kota Batu dan sekitar 60 siswa dari Kota Malang akan dititipkan di Sekolah Rakyat Kota Blitar, sehingga total mencapai 150 siswa.
Menurut Ika, status mereka merupakan siswa dari sekolah rintisan. Berbeda dengan Kota Blitar yang sedang menyiapkan gedung permanen, sejumlah daerah lain masih memanfaatkan fasilitas sementara milik Kemensos maupun Dinas Sosial Provinsi. Meski menerima siswa dari luar daerah, Ika memastikan hal itu tidak akan mengurangi hak calon peserta didik asal Kota Blitar karena seluruh kebutuhan pendidikan dan operasional Sekolah Rakyat ditanggung pemerintah pusat melalui APBN.
“Semua kebutuhan siswa ditanggung pemerintah pusat, mulai seragam, alat tulis hingga biaya operasional sekolah,” ujar Ika. Ia menambahkan bahwa siswa dari Kota Batu dan Kota Malang hanya belajar sementara di Kota Blitar. Setelah pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat di daerah asal mereka selesai, para siswa tersebut akan kembali. “Kalau gedung di daerah asal sudah siap, mereka akan ditarik kembali ke daerah masing-masing,” imbuhnya.
Sementara itu, proses penjaringan calon siswa asal Kota Blitar terus berlangsung. Saat ini pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masih melakukan penjangkauan terhadap sekitar 1.700 sasaran untuk memenuhi kuota awal sebanyak 270 siswa, masing-masing 90 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.
Ika mengungkapkan bahwa tantangan terbesar saat ini justru datang dari sebagian orang tua yang masih ragu melepas anaknya tinggal di asrama. Padahal konsep boarding school yang diterapkan Sekolah Rakyat dirancang untuk membentuk karakter, kemandirian, dan meningkatkan peluang anak keluar dari lingkaran kemiskinan. “Kami terus memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa program ini disiapkan untuk masa depan anak. Tetap ada masa libur sehingga mereka bisa pulang dan bertemu keluarga,” pungkasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan