Media Kampung – Andy Burnham, yang diprediksi akan segera menjadi Perdana Menteri Inggris setelah pengunduran diri Sir Keir Starmer, kini menghadapi serangkaian tantangan berat. Mulai dari tekanan internal partai, kontroversi kebijakan pensiun, hingga sorotan terhadap rekam jejaknya di bidang seni dan budaya.
Ketegangan di tubuh Partai Buruh memuncak setelah Menteri Dalam Negeri Shabana Mahmood mendesak Perdana Menteri untuk memecat Menteri Imigrasi Mike Tapp. Tapp dianggap melanggar protokol pemerintahan dengan menulis artikel yang menyarankan agar pekerja perawatan asing dikecualikan dari rencana pembatasan aturan kependudukan. Namun, Starmer menolak memecat Tapp dan menyatakan akan mempertimbangkan apakah tindakannya melanggar kode etik menteri.
Sementara itu, Burnham dikabarkan tengah mempertimbangkan Ed Miliband sebagai calon Menteri Keuangan dalam kabinetnya. Hal ini memicu perebutan posisi di internal partai yang disebut sebagai ‘perang saudara’.
Di sisi lain, kebijakan triple lock—yang menjamin kenaikan pensiun negara setiap tahun sesuai dengan pertumbuhan pendapatan rata-rata, inflasi, atau 2,5%—menjadi isu sensitif. Salah satu penasihat ekonomi Burnham, Andy Haldane, menyebut kebijakan itu ‘tidak berkelanjutan secara fiskal’ dan mendorong reformasi. Direktur Silver Voices, Dennis Reed, memperingatkan bahwa jika Burnham menghapus triple lock, ia akan menghadapi ‘pertempuran politik besar’ dengan para pensiunan Inggris.
Burnham sendiri berkomitmen untuk mempertahankan triple lock sesuai janji manifesto Partai Buruh hingga akhir periode parlemen ini. Namun, tekanan untuk mereformasi kebijakan tersebut terus meningkat, terutama untuk membiayai belanja pertahanan.
Di luar politik, rekam jejak Burnham sebagai Wali Kota Greater Manchester menunjukkan pendekatannya terhadap seni dan budaya. Ia dikenal karena mendukung proyek-proyek besar seperti Factory International dan Aviva Studios, serta mengintegrasikan budaya ke dalam strategi kota, termasuk melalui skema Greater Manchester Town of Culture yang menyebarkan perhatian ke wilayah pinggiran. Profesor Kirsty Fairclough dari Manchester Metropolitan University menilai Burnham sebagai salah satu wali kota metro pertama yang memperlakukan budaya bukan sekadar sektor ekonomi, tetapi sebagai bagian dari strategi kewarganegaraan yang lebih luas.
Burnham juga menghadapi tekanan dari tokoh seperti Alf Dubs, seorang rekan sejawat Partai Buruh yang selamat dari Nazi, yang menyerukan agar Mahmood dicopot dari jabatan Menteri Dalam Negeri dan kebijakan suakanya dihapuskan. Dubs menilai kebijakan Mahmood sebagai ‘kekejaman yang bersifat pertunjukan’ dan berharap pemerintahan Burnham dapat mengedepankan hak asasi manusia dan kasih sayang.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Burnham harus menunjukkan kemampuannya dalam menyatukan partai, mengelola kebijakan publik yang kontroversial, dan mempertahankan warisan positifnya di Manchester saat ia bersiap memasuki 10 Downing Street.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan