Media Kampung – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menghentikan kebocoran kekayaan negara dalam pidato penutupan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes PBNU) di Kampus Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (Insya), Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada 25 Juni 2026.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengaku terkejut melihat besarnya kekayaan nasional yang tidak tinggal di dalam negeri selama 18 bulan masa kepemimpinannya. Menurutnya, kebocoran tersebut menyebabkan rakyat tidak merasakan manfaat langsung dari pertumbuhan ekonomi. “Saya sedih melihat beberapa besar kekayaan kita yang hilang selama ini, saya disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat,” ujarnya.

Presiden memberikan contoh konkret pembangunan infrastruktur desa. Ia baru saja meresmikan 1.151 kilometer jalan di Kabupaten Sampang dengan anggaran Rp5,4 triliun. “Jika Rp20 triliun dimanfaatkan secara optimal, maka ribuan jalan, jembatan, dan sekolah bisa segera dibangun untuk rakyat,” ucapnya.

Selain itu, Prabowo menyoroti jutaan hektar kebun dan ratusan tambang yang melanggar hukum, termasuk di kawasan hutan lindung. Pemerintah bertekad menutup dan menertibkan aktivitas ilegal tersebut. “Jangan sampai dianggap seolah-olah tidak ada negara,” tegasnya.

Ia juga menyinggung paradoks pertumbuhan ekonomi. Selama tujuh tahun terakhir, Indonesia tumbuh rata-rata 5 persen per tahun, namun rakyat justru semakin miskin. “Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah,” ungkapnya. Dalam pidato tersebut, Prabowo menekankan pentingnya pemerintahan yang bersih dari korupsi. “Pemerintah harus benar-benar menjaga amanah rakyat,” katanya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.