Media Kampung – Kue rangin merupakan salah satu jajanan tradisional Nusantara yang memiliki sejarah panjang dan masih bertahan hingga saat ini di berbagai daerah, termasuk Malang Raya. Kuliner berbahan dasar kelapa parut ini dikenal dengan berbagai nama di sejumlah wilayah Indonesia.

Asal-usul dan Sejarah Kue Rangin

Berdasarkan catatan sejarah kuliner Nusantara, kue ini sudah disebut dalam berbagai naskah dan literatur lama sebagai bagian dari kekayaan kuliner masyarakat Jawa dan Betawi. Zaenal, pelaku usaha sekaligus pengusaha kue rangin, menjelaskan bahwa makanan tradisional ini memiliki sebutan berbeda-beda di setiap daerah. Di Malang, kue ini kerap disebut serabi, sementara di Bandung dikenal sebagai bandros. Adapun di Surabaya disebut rangin, dan di Jakarta lebih populer dengan nama pancong.

“Kue ini sebenarnya sama, hanya penyebutannya berbeda di tiap daerah. Kalau di Malang serabi, di Bandung bandros, di Surabaya rangin, dan di Jakarta pancong,” ujarnya kepada RRI, Rabu (24/6/2026).

Proses Pembuatan dan Cita Rasa

Kue rangin pada dasarnya dibuat dari adonan tepung dengan campuran kelapa parut yang kemudian dipanggang menggunakan cetakan khusus hingga menghasilkan aroma khas yang menggugah selera. Cita rasa gurih dan manis dari gula membuat jajanan ini tetap diminati hingga sekarang.

Perkembangan dan Pelestarian

Menurut Zaenal, keberadaan kue rangin tidak lepas dari tradisi masyarakat yang sejak dulu menjadikannya sebagai camilan sederhana di pasar-pasar tradisional. Seiring waktu, jajanan ini terus berkembang dan beradaptasi dengan berbagai daerah tanpa meninggalkan cita rasa aslinya. “Kue rangin ini sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari jajanan pasar yang diwariskan secara turun-temurun,” kata Zaenal.

Ia menambahkan, meskipun zaman terus berkembang dan banyak makanan modern bermunculan, kue rangin tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki daya tarik tersendiri. Zaenal berharap kue rangin sebagai bagian dari warisan kuliner Nusantara dapat terus dilestarikan dan dikenal oleh generasi muda, sehingga tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.