Media Kampung – Dalam setiap kontestasi politik, demokrasi pada dasarnya adalah mekanisme untuk memilih pemimpin terbaik melalui dua proses yang tidak terpisahkan: penilaian dan pemilihan. Penilaian meliputi penimbangan kualitas, kapasitas, integritas, dan rekam jejak kandidat, sedangkan pemilihan adalah tindakan menentukan siapa yang dipercaya menjalankan amanah publik. Keberhasilan demokrasi sangat bergantung pada kejujuran seluruh pihak yang terlibat.
Namun, praktik politik modern seringkali berjalan ke arah berbeda. Kontestasi tidak lagi berpusat pada substansi, melainkan pada pencitraan. Lahirlah industri politik yang memoles citra: relawan, buzzer, influencer, tim sukses, konsultan citra, hingga pasukan media sosial. Tugas mereka bukan menjelaskan apa adanya, melainkan membangun narasi yang menguntungkan pihak yang didukung. Kekurangan disembunyikan, kesalahan dikecilkan, kegagalan diberi pembenaran, sementara keberhasilan kecil diperbesar menjadi monumental.
Fenomena ini memiliki kemiripan dengan kisah Firaun dan para penyihirnya. Ketika Nabi Musa membawa kebenaran, Firaun mengumpulkan penyihir terbaik untuk mengalahkannya. Para penyihir bertanya tentang imbalan, menunjukkan orientasi keuntungan. Namun setelah menyaksikan kebenaran, mereka justru mengakui Musa dan meninggalkan ilusi. Sebaliknya, banyak buzzer modern tetap mempertahankan ilusi meskipun mengetahui kebenaran. Mereka tahu kelemahan dan kebohongan pihak yang didukung, namun justru bekerja lebih keras menyembunyikannya.
Persoalan terbesar demokrasi bukan terletak pada siapa yang menang atau kalah, melainkan pada hilangnya keberanian moral untuk mengatakan yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah. Sebuah bangsa runtuh ketika terlalu banyak orang bersedia menyewakan akal, hati, dan suaranya demi kepentingan sesaat. Relawan berubah menjadi alat, pendukung menjadi penjilat, dan komunikasi politik menjadi industri penyewaan kebenaran.
Demokrasi tidak akan rusak hanya karena hadirnya calon yang buruk. Demokrasi mulai kehilangan maknanya ketika terlalu banyak orang bersedia menggadaikan kebenaran untuk memenangkan calon yang mereka tahu tidak layak. Pada saat itulah Tim Hore tidak lagi sekadar menjadi pendukung, melainkan berubah menjadi bagian dari masalah yang sedang mereka rayakan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan