Media KampungAliansi Gebrak melakukan longmarch dari Senayan Park menuju Gedung DPR pada 1 Mei 2026, menandai aksi Hari Buruh Internasional.

Aksi dimulai pukul 08.20 WIB di Gerbang Pemuda Gelora Bung Karno, kemudian berarak sepanjang Jalan Gatot Subroto hingga Senayan.

Rombongan terdiri dari sekitar 20 bus, puluhan mobil komando, dan ratusan sepeda motor yang membawa spanduk, poster, serta atribut biru‑merah.

Menurut ketua KASBI Sunarno, sekitar sepuluh ribu massa dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat berpartisipasi dalam aksi tersebut.

“Hari ini kami melakukan aksi di Gedung DPR bersama kawan‑kawan Aliansi Gebrak,” ujar Sunarno saat ditemui di depan gerbang utama DPR.

Sunarno menegaskan bahwa aksi bertujuan menekan DPR agar segera membahas RUU Ketenagakerjaan baru pasca putusan Mahkamah Konstitusi nomor 168 tentang UU Cipta Kerja.

Peserta longmarch mengenakan atribut seragam biru‑merah, sementara sebagian mengenakan pakaian merah dengan dua replika rudal besar sebagai simbol aspirasi.

Polisi menempatkan satuan pengamanan di titik‑titik strategis, termasuk di gerbang utama DPR dan sepanjang rute longmarch.

Polisi juga mengalihkan arus kendaraan di Jalan Gatot Subroto arah Slipi, sehingga sebagian jalan ditutup total selama aksi.

Penggunaan bus dan mobil komando memastikan konvoi tetap teratur, sementara petugas keamanan menjaga ketertiban dan mencegah potensi kerusuhan.

Massal buruh mengangkat tuntutan peningkatan upah layak, penghapusan sistem outsourcing, serta penyusunan undang‑undang ketenagakerjaan yang melibatkan serikat buruh.

Selain KASBI, aliansi lain yang ikut serta meliputi AGRA, SBMI, FPBI, serta Solidaritas Perempuan.

Setelah berkumpul di bawah flyover Senayan, massa melakukan shalat Jumat bersama sebelum melanjutkan longmarch menuju Gedung DPR.

Di depan DPR, massa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memulai orasi politik yang dipimpin oleh perwakilan masing‑masing organisasi.

Orasi menekankan perlunya ratifikasi Konvensi ILO 188 dan ILO 190, serta penolakan terhadap pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon.

Berita menyoroti bahwa aksi ini berbeda dengan May Day Fiesta yang diadakan di Monas, karena para buruh menilai kondisi perburuhan masih memprihatinkan.

Ribuan buruh Banten berangkat dari titik kumpul di Jalan Daan Mogot KM 23, menambah jumlah peserta dalam konvoi utama.

Petugas kepolisian mengawal konvoi dari depan, memastikan tidak ada penyimpangan selama perjalanan menuju pusat kota.

Selama aksi, lalu lintas di Tol Dalam Kota tetap lancar, namun akses ke kawasan Senayan sempat terhambat.

Pasukan kebersihan oranye segera dikerahkan setelah aksi berakhir untuk membersihkan sampah dan sisa atribut di area DPR.

Polisi membuka kembali akses Jalan Gatot Subroto pada sore hari, memungkinkan kendaraan melintas kembali dengan pengawalan.

Aksi berakhir pada pukul 17.30 WIB dengan pembubaran tertib, tanpa tercatat adanya kerusuhan atau penangkapan massal.

Kepala Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta menyatakan akan menindaklanjuti tuntutan buruh dalam rapat koordinasi internal.

Pengamat politik menilai aksi ini meningkatkan tekanan publik terhadap pemerintah untuk mempercepat revisi UU Ketenagakerjaan.

Aliansi Gebrak menegaskan komitmen melanjutkan perjuangan melalui dialog konstruktif dengan legislatif dan eksekutif.

Demonstrasi ini mencerminkan kekecewaan luas buruh terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap mengabaikan hak pekerja.

Seluruh rangkaian aksi menunjukkan solidaritas lintas wilayah, menegaskan bahwa buruh Indonesia bersatu dalam memperjuangkan keadilan kerja.

Dengan berakhirnya aksi, harapan tetap tinggi bahwa DPR akan segera mengusulkan RUU Ketenagakerjaan yang pro‑buruh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.