Media Kampung – Mahasiswa dan WALHI menggelar aksi kreatif di depan Gedung DPR RI, menyerukan keadilan iklim dan menuntut kebijakan konkret untuk atasi krisis iklim secara nasional.
Aksi tersebut berlangsung pada hari Selasa, 23 April 2024, tepat di lapangan depan gedung parlemen Indonesia di Jakarta.
Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas serta aktivis WALHI mendirikan tenda berwarna hijau dan biru sebagai simbol harapan lingkungan.
Setiap tenda dilengkapi poster, lukisan, serta instalasi seni yang menggambarkan dampak perubahan iklim di wilayah Indonesia.
Para peserta menyiapkan panggung mini untuk pertunjukan musik akustik, puisi, dan teater jalanan yang menyoroti isu iklim.
“Kami menuntut pemerintah segera mengesahkan undang‑undang yang melindungi iklim,” ujar Rani, mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia.
Selain Rani, perwakilan WALHI, Budi Santoso, menekankan pentingnya aksi kolektif untuk menekan emisi karbon nasional.
Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 % pada 2030, namun realisasi kebijakan masih lambat.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa deforestasi hutan meningkat 12 % pada kuartal pertama 2024.
Kelangkaan kebijakan adaptasi membuat komunitas pesisir dan petani semakin rentan terhadap banjir dan kekeringan.
Aksi kreatif ini bertujuan meningkatkan kesadaran publik serta menekan legislator DPR untuk mempercepat regulasi iklim.
Selama aksi, para peserta membagikan selebaran berisi data ilmiah serta rekomendasi kebijakan kepada pengunjung.
Beberapa anggota parlemen, termasuk Anggota Komisi I DPR, hadir menyaksikan aksi tersebut.
Komisi I DPR bertugas mengawasi kebijakan lingkungan, energi, dan perubahan iklim.
Anggota komisi menanggapi dengan menyatakan akan membahas usulan regulasi dalam rapat mendatang.
Namun, aktivis menilai langkah tersebut masih belum cukup mengingat urgensi krisis iklim yang melanda.
Pengamat lingkungan, Dr. Maya Lestari, menilai aksi ini mencerminkan peningkatan tekanan sosial terhadap pemerintah.
Selain aksi di DPR, gerakan serupa juga dilaporkan di beberapa kota besar Indonesia pada minggu yang sama.
Hal ini menunjukkan pola koordinasi nasional yang memperkuat tuntutan keadilan iklim.
WALHI menyiapkan laporan komprehensif berisi rekomendasi kebijakan yang akan diserahkan kepada DPR pada akhir Mei.
Laporan tersebut mencakup target energi terbarukan, penghentian pembukaan lahan baru, serta insentif bagi industri hijau.
Mahasiswa juga mengusulkan program beasiswa bagi peneliti iklim sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas ilmiah nasional.
Pemerintah sebelumnya mengumumkan rencana investasi US$10 miliar dalam energi terbarukan hingga 2027.
Para aktivis menilai realisasi investasi tersebut masih belum mencukupi untuk menutup kesenjangan emisi.
Aksi kreatif ini berakhir pada sore hari dengan upacara penurunan tenda secara simbolis.
Penurunan tenda diiringi nyanyian bersama yang menegaskan komitmen generasi muda untuk melindungi bumi.
Dengan berakhirnya aksi, para peserta berharap tekanan publik tetap berlanjut hingga kebijakan keadilan iklim terwujud.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan