Media Kampung, Nusa Tenggara Timur – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan lebih dari 2.700 gempa susulan yang terjadi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa-gempa tersebut berkisar antara magnitudo 1,1 hingga 6,2 dengan 24 di antaranya mencapai magnitudo 5 serta 81 gempa yang dirasakan oleh masyarakat.
Perkiraan Durasi Gempa Susulan
Menurut Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, gempa susulan ini diperkirakan masih akan berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi selama periode tersebut.
Wilayah Terdampak dan Status Waspada
Beberapa wilayah yang terdampak dan berstatus siaga antara lain Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Wilayah lain seperti Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo berada dalam status waspada. BMKG terus melakukan monitoring intensif guna memastikan keselamatan masyarakat.
Potensi Tsunami dan Dampak Gempa
Observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa ini telah memicu tsunami di 16 lokasi di empat provinsi: NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, mencapai 1,605 meter, sedangkan yang terendah di Bakalang, Alor, dengan 0,14 meter.
Gempa utama dengan magnitudo 7,7 yang melanda Flores menyebabkan korban jiwa sebanyak 69 orang meninggal dan 331 luka-luka. Kerusakan terjadi di beberapa wilayah seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, dan Sikka, Maumere, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat.
Upaya Survei dan Mitigasi
BMKG telah mengerahkan tim gabungan dari pusat dan unit pelaksana teknis (UPT) untuk melakukan survei gempa merusak. Survei ini meliputi makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk memahami karakteristik tanah dan respons terhadap guncangan gempa, serta verifikasi dampak tsunami. Data survei ini penting untuk proses pemulihan, rekonstruksi, dan mitigasi risiko bencana di masa depan.
Sosialisasi dan Edukasi kepada Masyarakat
Selain pemantauan, BMKG aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak guna memberikan pemahaman yang tepat sekaligus menenangkan kondisi pascagempa. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari penggunaan bangunan yang retak atau rusak akibat gempa dan selalu waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi.
Dengan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan yang terus ditingkatkan, diharapkan dampak gempa susulan dapat diminimalisir serta proses pemulihan di wilayah terdampak dapat berjalan dengan lebih aman dan efektif.














Tinggalkan Balasan