Media Kampung – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Sulawesi Utara (Sulut) pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 06.37 WIB, dipastikan dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa ini termasuk jenis gempa dangkal dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa lokasi episenter dan kedalaman hiposenter menunjukkan gempa ini akibat subduksi lempeng. Guncangan dirasakan di berbagai wilayah dengan skala intensitas bervariasi, seperti IV MMI di Kota Morotai dan Halmahera Utara, serta III-IV MMI di Kabupaten Gorontalo Utara.
Skala IV MMI berarti getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah, gerabah pecah, dan pintu berderik. Sementara skala III MMI seperti truk besar berlalu, dirasakan di Batang Dua, Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Boltim, dan Halmahera Tengah.
Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan, namun hasil pemodelan BMKG menunjukkan gempa ini berpotensi tsunami. Status siaga tsunami diberlakukan untuk Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Kepulauan Minahasa, Toli-toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung. Status waspada tsunami berlaku untuk Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Minahasa Selatan, Kota Bontang, dan Berau.
Wijayanto mengimbau masyarakat tetap tenang dan hanya mengacu pada informasi resmi BMKG. Bagi warga di daerah berstatus siaga, disarankan segera menjauhi pantai menuju tempat yang lebih tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan