Media Kampung – Diaspora Indonesia Dukung Bahasa Prancis Diajarkan di Sekolah di Tanah Air, menyuarakan antusiasme mereka terhadap kebijakan terbaru yang digariskan Presiden Prabowo Subianto. Komunitas Indonesia yang tinggal di Prancis menilai penambahan Bahasa Prancis dalam kurikulum nasional sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan bilateral serta meningkatkan kompetensi generasi muda.

Instruksi Presiden Prabowo Subianto

Pada pertemuan bilateral dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Elysee, Paris, Kamis, 28 Mei 2026, Presiden Prabowo secara tegas menginstruksikan semua tingkatan sekolah di Indonesia untuk mempelajari Bahasa Prancis. Ia menekankan pentingnya diversifikasi bahasa asing selain Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, guna menyiapkan siswa menghadapi tantangan global dan memperluas jaringan diplomatik serta ekonomi.

Pandangan Angga Perima, Ilmuwan dan Aktivis Diaspora

Angga Perima, seorang ilmuwan asal Indonesia yang kini menetap di Paris, menegaskan dukungannya terhadap kebijakan tersebut. Menurutnya, belajar bahasa ke‑tiga seperti Bahasa Prancis dapat menjadi stimulus positif bagi otak, memperlambat proses penuaan, mengurangi stres, dan mencegah kerusakan jaringan otak di masa depan. “Saya mendukung karena dengan belajar bahasa lain, Bahasa Prancis akan meningkatkan kemampuan otak agar berfungsi baik,” ujar Angga pada Jumat, 28 Mei 2026.

Angga menambahkan bahwa tingkat kemahiran sangat bergantung pada intensitas belajar. Ia memberi contoh bahwa belajar dua jam per hari selama lima hari dalam seminggu dapat menunjukkan hasil signifikan dalam enam bulan. Jika intensitas dinaikkan menjadi lima hingga enam jam per hari, kemahiran dasar dapat tercapai dalam tiga bulan, sementara fokus pada level C2 memerlukan dua hingga tiga tahun belajar intensif.

Manfaat Kognitif dan Sosial Belajar Bahasa Prancis

  • Stimulasi neuroplastisitas otak, meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.
  • Pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui pemahaman struktur bahasa yang kompleks.
  • Peningkatan peluang kerja di sektor pariwisata, perdagangan, dan teknologi yang melibatkan mitra Prancis.
  • Penguatan identitas multikultural dan toleransi antarbangsa.

Tantangan dalam Pembelajaran Bahasa Prancis

Setiap bahasa memiliki kesulitan tersendiri, dan Bahasa Prancis tidak terkecuali. Angga menyebutkan tantangan utama meliputi aturan gender pada kata benda, konjugasi kata kerja yang berubah tergantung subjek dan tense, serta perbedaan dalam pengucapan. Namun, ia menilai bahwa pengetahuan Bahasa Inggris dapat mempermudah proses belajar, mengingat banyak kesamaan struktural antara kedua bahasa.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, rekomendasi meliputi penggunaan metode immersi, materi audiovisual, serta kolaborasi dengan penutur asli melalui platform daring. Pemerintah diharapkan menyediakan pelatihan bagi guru, bahan ajar yang up‑to‑date, dan fasilitas laboratorium bahasa di sekolah.

Implementasi Kebijakan di Tingkat Nasional

Pemerintah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun roadmap implementasi yang mencakup pilot project di sejumlah provinsi, pelatihan intensif bagi guru Bahasa Prancis, serta pengadaan buku teks yang disesuaikan dengan standar kurikulum 2024. Selain itu, kerja sama dengan Institut Français dan kedutaan Prancis akan menyediakan beasiswa serta program pertukaran pelajar untuk memperdalam kompetensi bahasa.

Dengan dukungan kuat dari Diaspora Indonesia Dukung Bahasa Prancis Diajarkan di Sekolah di Tanah Air, diharapkan kebijakan ini tidak hanya menjadi formalitas, melainkan transformasi nyata dalam pendidikan bahasa di Indonesia. Upaya ini akan menyiapkan generasi muda yang lebih adaptif, kompetitif, dan siap bersaing di panggung internasional.

Secara keseluruhan, inisiatif ini mencerminkan sinergi antara pemerintah, komunitas diaspora, dan sektor pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan bahasa yang lebih luas, sekaligus memperkuat ikatan persahabatan Indonesia‑Prancis ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.