Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 6.346 pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, setelah sebelumnya ditutup melemah tipis 0,09 persen akibat aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,11 triliun. Namun, volatilitas masih tinggi menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran support 6.250–6.300 dan resistance 6.380–6.480. Jika mampu bertahan di atas 6.300–6.330, indeks berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 6.700–6.850. Sebaliknya, jika turun di bawah 6.300, koreksi ke level 6.000-an bisa terjadi.
Sejumlah saham menjadi rekomendasi analis untuk perdagangan hari ini, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Buyung Poetra Sembada Tbk (BULL), di tengah gejolak harga minyak yang dipicu eskalasi konflik AS-Iran. Harga minyak mentah Brent melonjak ke US$94,07 per barel, sementara WTI di level US$86,83 per barel. Saham lain yang masuk radar antara lain ARCI, ASII, DSSA, BBRI, AMMN, dan TPIA.
Dari bursa global, Wall Street ditutup melemah pada Rabu (22/7) dengan S&P 500 turun 0,14 persen, Nasdaq melemah 0,57 persen, dan Dow Jones turun 0,01 persen. Pelemahan ini dipicu oleh serangan militer AS yang ke-11 secara berturut-turut terhadap Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak.
Secara teknikal, Kiwoom Sekuritas Indonesia mencatat IHSG masih dalam tren bullish setelah breakout di atas resistance 6.377, meski belum mampu bertahan. RSI di 62,69 menunjukkan momentum bullish masih kuat, namun mendekati area overbought. Support EMA50 di 6.284–6.260 menjadi level kunci untuk kelanjutan penguatan menuju 6.398–6.459.
Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan IHSG di sekitar level support 6.300, karena menjadi penentu arah selanjutnya. Saham-saham berbasis komoditas seperti BUMI dan BULL bisa menjadi pilihan di tengah kenaikan harga minyak, namun tetap waspada terhadap risiko koreksi jika sentimen global memburuk.













