Media Kampung, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu, dikabarkan akan mengakuisisi aset panas bumi di Filipina senilai US$5 miliar atau sekitar Rp90,35 triliun (asumsi kurs Rp18.068 per dolar AS).

Berdasarkan laporan Stockbit Investment Research yang mengutip Bloomberg, BREN telah mengajukan penawaran tunai tidak mengikat (non-binding cash offer) senilai lebih dari US$5 miliar untuk mengakuisisi Energy Development Corp. (EDC), perusahaan panas bumi asal Filipina. Sumber anonim Bloomberg menyebutkan bahwa jika ditotal dengan utang perusahaan, nilai valuasi EDC bisa mencapai US$7 miliar.

Pembahasan terkait potensi transaksi ini masih berlangsung dengan para penasihat keuangan. EDC sendiri didukung oleh beberapa pemegang saham besar, yakni First Gen Corp. (konglomerasi energi terbarukan milik keluarga Lopez di Filipina), Macquarie Asset Management, dan GIC Pte. Ltd. dari Singapura.

Hingga berita ini ditayangkan, Head of Corporate Communication Barito Pacific, Angelin Sumendap, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dilakukan oleh Katadata.

Kinerja Keuangan BREN

BREN mencatatkan pendapatan sebesar US$165 juta pada kuartal I-2026, naik 9,8% secara tahunan. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) meningkat 11,4% menjadi US$145 juta, dengan margin EBITDA naik dari 86,4% menjadi 87,6% berkat efisiensi operasional dan pengendalian biaya.

Laba bersih setelah pajak tumbuh 24% menjadi US$53 juta, didukung oleh penurunan beban pendanaan. Hingga akhir Maret 2026, total aset BREN mencapai US$3,94 miliar dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 2,23 kali.

Ekspansi Kapasitas Panas Bumi

BREN telah menyelesaikan proyek retrofit Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Wayang Windu pada kuartal I-2026, yang meningkatkan kapasitas terpasang panas bumi perseroan menjadi 926 megawatt (MW).

Perseroan juga melanjutkan sejumlah proyek ekspansi, antara lain Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan retrofit Darajat Unit 3. Seluruh proyek ini ditargetkan mendorong kapasitas terpasang panas bumi BREN melampaui 1.000 MW pada akhir 2026.

Chief Executive Officer Barito Renewables Energy, Hendra Soetjipto Tan, mengatakan bahwa kinerja awal tahun ditopang oleh stabilnya produksi listrik dari aset panas bumi serta kontribusi kuat dari segmen angin yang mencatat tingkat produksi tertinggi sejak beroperasi secara komersial.