Media Kampung – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada pendapatan perusahaan otobus pariwisata, yang tercatat turun hingga 50 persen. Kondisi ini dipicu oleh berkurangnya permintaan sewa bus dan lonjakan harga suku cadang yang sebagian besar masih diimpor.
Sekjen Ikatan Perusahaan Otobus Pariwisata Jawa Barat, Herdis Subarja, menjelaskan bahwa suku cadang, ban, dan minyak pelumas mengalami kenaikan signifikan akibat pelemahan rupiah. Akibatnya, banyak bus yang belum diperbaiki karena perusahaan otobus tidak mampu memenuhi kebutuhan perbaikan kendaraan.
“Suku cadang, ban, dan minyak pelumas naik signifikan akibat melemahnya rupiah, karena sebagian besar masih impor. Otomatis banyak bus yang belum diperbaiki karena perusahaan otobus tak mampu memenuhi kebutuhan perbaikan kendaraan,” ujarnya dalam perbincangan dengan Media Kampung, Minggu, 7 Juni 2026.
Dia menambahkan, jika ada permintaan sewa bus pariwisata, otomatis tidak dapat terpenuhi sepenuhnya karena kondisi kendaraan yang belum bisa diperbaiki. “Otomatis ada potensi pendapatan yang hilang juga,” ujarnya.
Herdis merinci, oli mesin impor mengalami lonjakan harga lebih dari 30-50 persen per drum, sementara harga ban naik sekitar 10-20 persen. Perusahaan otobus telah mengambil langkah adaptif, seperti menerapkan sistem shift bagi driver sesuai ketersediaan jumlah kendaraan.
“Jadi kalau mereka bawa kendaraan baru dapat honor, tidak seperti sistem gaji. Hal ini bisa menjadi salah satu solusi mengurangi beban operasional akibat berkurangnya pendapatan,” pungkasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan