Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan, ditutup pada posisi Rp17.706 per dolar AS, melemah 38 poin atau sekitar 0,22 persen dari posisi sebelumnya Rp17.668. Pelemahan ini dipicu oleh tren kenaikan harga minyak dunia yang terus berada di atas 100 dolar AS per barel serta faktor domestik yang masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi oleh tekanan pada ruang fiskal pemerintah akibat membengkaknya subsidi energi yang harus ditanggung akibat harga minyak global yang tinggi. Dengan asumsi kurs dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp16.500, tambahan subsidi diperkirakan mencapai Rp150 triliun jika harga minyak terus melonjak tanpa adanya penyesuaian harga bahan bakar bersubsidi.
Selain itu, ketegangan geopolitik di wilayah Selat Hormuz turut menekan pasokan minyak dunia. Stok minyak komersial global menipis dengan cepat, menyisakan persediaan hanya untuk beberapa pekan ke depan. Walaupun cadangan strategis telah dilepaskan sejak Maret 2026 sebanyak 2,5 juta barel per hari, keterbatasan pasokan tetap memicu potensi volatilitas harga minyak yang dapat berimbas pada ekonomi global dan nilai tukar rupiah.
Rully menambahkan bahwa sentimen negatif juga datang dari meningkatnya ekspektasi inflasi di Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan yield obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor dua tahun mencapai 4,105 persen, tenor sepuluh tahun sebesar 4,631 persen, dan tenor tiga puluh tahun di angka 5,159 persen, menandai level tertinggi sepanjang tahun ini. Kenaikan yield ini mengurangi daya tarik pasar terhadap obligasi pemerintah Indonesia, sehingga mengurangi permintaan terhadap rupiah.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikeluarkan Bank Indonesia pada hari yang sama juga menunjukkan pelemahan, bergerak ke level Rp17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.666. Kondisi ini menandai adanya tekanan pada rupiah yang kemungkinan akan berlanjut hingga keputusan kebijakan moneter bank sentral diumumkan.
Rapat Dewan Gubernur BI dijadwalkan akan memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, sebagai upaya meredam inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, ruang fiskal yang terbatas dan risiko eksternal dari harga minyak serta kondisi pasar global menambah kompleksitas kebijakan moneter yang harus diambil pemerintah dan Bank Indonesia.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian Indonesia, di mana kebutuhan dolar yang meningkat secara musiman dan menurunnya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah domestik turut memperberat tekanan terhadap rupiah. Kondisi ini juga berpotensi mempengaruhi inflasi domestik yang mulai terlihat meningkat pada bulan Mei 2026.
Sampai saat ini, pasar masih menunggu hasil resmi dari RDG BI yang dinilai akan memberikan arah bagi pergerakan rupiah ke depan. Sementara itu, pemerintah juga dihadapkan pada dilema dalam mengelola subsidi energi agar tidak menimbulkan beban fiskal yang berlebihan sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah harga minyak global yang masih tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan