Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa, 19 Mei 2026, berakhir di zona merah dengan penurunan sebesar 3,46 persen ke posisi 6.370,68. Penurunan ini menunjukkan tekanan jual yang cukup signifikan setelah beberapa hari sebelumnya IHSG juga mengalami koreksi.

Perdagangan hari itu dibuka pada level 6.599,21 dan sempat mencapai titik tertinggi di 6.635,13 sebelum akhirnya turun ke posisi terendah 6.323,26 di sesi pertama. Total transaksi saham yang terjadi mencapai Rp25,3 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 45,7 miliar lembar saham yang tersebar dalam lebih dari 2,7 juta kali transaksi.

Dari jumlah saham yang diperdagangkan, sebanyak 612 saham mengalami penurunan harga, sedangkan 112 saham berhasil menguat dan 94 saham lainnya stagnan. Tekanan jual ini juga didorong oleh aksi jual bersih oleh investor asing yang masih menjadi salah satu faktor utama di pasar saham domestik.

Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, menyampaikan bahwa meski IHSG melemah cukup dalam, ada potensi rebound secara teknikal dalam jangka pendek. Ia memperkirakan indeks akan bergerak di rentang support antara 6.460 hingga 6.500, dengan resistansi di level sekitar 6.650 sampai 6.700.

Sentimen global juga turut memengaruhi pergerakan pasar saham Indonesia. Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia menimbulkan kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya pinjaman yang berpotensi lebih tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini tercermin dari penurunan indeks Nasdaq di Amerika Serikat yang terdampak oleh kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang merangkak naik.

Bursa saham di kawasan Asia Pasifik juga mengalami tekanan, dengan indeks Nikkei 225 turun 0,97 persen dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,11 persen. Selain itu, CSI 300 Tiongkok dan Taiex Taiwan juga mencatatkan penurunan masing-masing 0,54 persen dan 0,68 persen.

Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 19–20 Mei 2026. Pasar menantikan keputusan terkait kebijakan suku bunga acuan yang dinilai berpengaruh terhadap sentimen pasar ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.