Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin, 18 Mei 2026 pagi mengalami penurunan signifikan dengan angka 1,74 persen atau turun sebesar 116,665 poin ke posisi 6.628,97 dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pasar yang meningkat menjelang libur panjang, serta dipengaruhi oleh arus keluar dana asing dan proses rebalancing indeks MSCI yang sedang berlangsung.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa kombinasi tekanan dari faktor global dan domestik menjadi penyebab utama pelemahan IHSG saat ini. Menurutnya, dalam waktu dekat indeks berpotensi bergerak dengan volatilitas tinggi dan cenderung mengalami penurunan secara sideways bearish, seiring dengan fase penyesuaian pasar yang sedang berlangsung.

Tekanan besar terutama dirasakan pada saham-saham berkapitalisasi besar akibat rebalancing MSCI yang dilaksanakan pada Mei 2026. Secara teknikal, Hendra menyebutkan bahwa level psikologis 6.900 menjadi area penting yang sedang diuji oleh pasar. Jika tekanan jual dari investor asing terus berlanjut, indeks berpeluang menurun lebih jauh menuju kisaran 6.600 hingga 6.700.

Meskipun demikian, Hendra menilai koreksi yang terjadi dapat membuka peluang untuk technical rebound, terutama jika tekanan dari faktor global mulai mereda dan nilai tukar rupiah kembali stabil. Ia menekankan bahwa pergerakan IHSG dipengaruhi oleh keluarnya dana asing serta pelemahan rupiah, disertai kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik saat ini.

Faktor eksternal lain yang menekan pasar adalah penguatan dolar AS dan kondisi rupiah yang membuat investor asing lebih berhati-hati dalam berinvestasi di pasar negara berkembang. Selain itu, pelemahan harga komoditas global dan kekhawatiran terkait perang tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok turut memberikan tekanan pada saham-saham sektor ekspor dan komoditas.

Dari sisi domestik, minimnya sentimen positif menyebabkan IHSG semakin rentan terhadap pengaruh eksternal. Rebalancing MSCI Mei 2026 dianggap sebagai salah satu pemicu utama tekanan pasar dalam beberapa pekan terakhir. Saham-saham seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT berpotensi menghadapi tekanan jual seiring keluarnya dana dari investor pasif global.

Tekanan pasar diperkirakan masih akan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei 2026. Risiko volatilitas juga dinilai meningkat terutama pada saham dengan free float terbatas dan likuiditas pasar yang belum cukup dalam. Hendra menyarankan investor ritel untuk lebih selektif dan bersikap defensif, dengan strategi pembelian bertahap saat harga melemah sebagai pendekatan yang lebih aman dibandingkan pembelian agresif.

Sektor perbankan blue chip masih dinilai menarik sebagai tujuan rotasi dana setelah tekanan akibat rebalancing MSCI. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI dianggap memiliki fundamental yang kuat serta likuiditas yang besar. Selain itu, sektor consumer staples dan telekomunikasi juga dianggap sebagai pilihan defensif di tengah volatilitas pasar, dengan emiten seperti INDF, ICBP, UNVR, KLBF, dan TLKM yang didukung oleh bisnis stabil dan arus kas yang sehat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.