Media Kampung – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat, tercatat sebagai salah satu penghasil gas metana terbesar di dunia. Data dari satelit Carbon Mapper menunjukkan bahwa Bantargebang memproduksi metana lebih dari 6 ton per jam, menjadikannya urutan kedua setelah TPA Campo de Mayo di Argentina. Kondisi ini menjadi sorotan karena gas metana merupakan gas rumah kaca yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.

Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Hanifrahmawan Sudibyo, menjelaskan bahwa metana terbentuk dari proses penguraian bahan organik secara anaerobik, yakni tanpa keberadaan oksigen yang cukup. Lingkungan lembap dan minim oksigen di dalam timbunan sampah organik di Bantargebang menciptakan kondisi ideal bagi mikroorganisme metanogenik untuk menghasilkan gas metana.

Hanif mengingatkan bahwa metana secara alami merupakan bagian dari siklus karbon, namun produksi berlebihan akibat tumpukan sampah yang tidak terkelola dapat meningkatkan risiko pemanasan global. Oleh karena itu, pengelolaan emisi metana dari TPA menjadi aspek penting dalam pengendalian gas rumah kaca.

Dalam konteks pengelolaan energi dan teknologi kimia, Hanif menyarankan penerapan teknologi penangkapan gas metana atau methane capture di Bantargebang. Sistem ini menggunakan pipa yang dipasang di dalam timbunan sampah untuk mengumpulkan gas metana yang dihasilkan. Gas tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui pemurnian atau pembangkit listrik berbasis biogas.

Selain teknologi penangkapan, Hanif menekankan pentingnya upaya pengurangan limbah organik yang masuk ke TPA. Pemilahan sampah dan pengelolaan limbah yang lebih baik dapat mengurangi produksi metana sejak awal. Pendekatan ini mendukung pengembangan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan konsep ekonomi sirkular untuk menekan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.

Hanif juga menyoroti perlunya kolaborasi lintas sektor dalam mengoptimalkan pemanfaatan gas metana di Bantargebang. Dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan badan usaha energi seperti PLN sangat diperlukan untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan yang terintegrasi. Kondisi ini bisa menjadi momentum untuk mengevaluasi pengelolaan sampah nasional sekaligus mendorong pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.