Media Kampung – Dr. Hanifrahmawan Sudibyo, dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, kembali dipercaya menjadi Lead Author Indonesia dalam penyusunan laporan internasional IPCC yang mengatur metodologi mitigasi perubahan iklim berbasis teknologi penghilangan karbon dioksida, termasuk biochar.
Pertemuan perdana Lead Author Meeting 1 (LAM1) dilaksanakan pada 14–16 April 2026 di markas Food and Agriculture Organization (FAO) Roma, Italia, dimana para penulis utama menyepakati kerangka kerja, pembagian tugas, dan arah ilmiah laporan tersebut. “Pertemuan ini menjadi forum penting untuk menyepakati kerangka metodologi, pembagian tugas, serta arah pengembangan ilmiah yang akan digunakan dalam laporan,” ujar Hanif pada Selasa (5/5).
Keterlibatan Hanif menandakan peran aktif Indonesia dalam forum global IPCC, khususnya pada metodologi carbon dioxide removal (CDR) yang relevan dengan kondisi tropis dan pertanian Asia Tenggara. Ia menekankan harapan agar semakin banyak delegasi Indonesia berpartisipasi, sehingga perspektif negara berkembang dapat masuk ke dalam pedoman internasional.
Tim kerja fokus pada pembaruan metodologi estimasi stok dan dinamika karbon biochar dengan mengacu pada kerangka 2019 Refinement, yang sebelumnya belum menyebutkan secara eksplisit efek priming positif atau negatif pada tanah organik. Pada fase awal, pendekatan baru mengandalkan suhu pirolisis dan rasio H/Corg sebagai indikator utama untuk menentukan fraksi karbon persisten (Fperm) serta menilai fraksi non‑persisten dalam neraca karbon.
Selain itu, tim mengembangkan model kuantitatif untuk memproyeksikan stok biochar selama rentang 1 hingga 100 tahun, memperhitungkan variabel lingkungan seperti suhu tanah dan distribusi vertikal biochar di profil tanah. Metode ini memungkinkan estimasi yang lebih akurat untuk berbagai skenario penggunaan biochar di lahan pertanian, perkebunan, serta lahan gambut.
Penelitian juga mencakup evaluasi dampak biochar terhadap emisi non‑CO₂, khususnya N₂O dan CH₄, pada sistem pertanian seperti sawah, serta analisis efek priming pada dinamika karbon tanah. Untuk lahan organik dan gambut, kajian literatur mendalam dilakukan guna memastikan bukti ilmiah yang cukup mendukung pembaruan metodologi.
Rangkaian pertemuan selanjutnya meliputi Lead Author Meeting 2 (LAM2) di Meksiko pada 11–14 Agustus 2026 untuk membahas First‑Order Draft, diikuti LAM3 di Nepal pada 19–22 Januari 2027 yang akan menelaah Second‑Order Draft, serta LAM4 pada akhir 2027 untuk finalisasi laporan. “Pada 2027 dalam Methodology Report ini, konten terkait aplikasi biochar pada tanah organik akan diperbarui seiring dengan hasil penelitian terbaru dalam rentang 5 tahun terakhir yang mengungkap bahwa negative priming lebih dominan,” jelasnya.
Hanif menegaskan bahwa fokus utama tim terletak pada pengembangan metodologi biochar untuk tanah mineral, organik, dan gambut, khususnya dalam konteks sektor Agriculture, Forestry, and Other Land Use (AFOLU). “Kita berharap bisa semakin memberikan banyak perspektif yang lebih luas. Bahwa untuk konteks negara‑negara berkembang seperti Indonesia memiliki background agriculture yang cukup dalam dan cukup kuat,” pungkasnya.
Dengan agenda yang telah direncanakan hingga akhir 2027, tim penulis terus mengumpulkan data lapangan, melakukan sintesis literatur, dan menguji model numerik demi menghasilkan pedoman yang dapat diadopsi oleh negara‑negara peserta inventarisasi gas rumah kaca.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan