Media Kampung – Setiap tahunnya, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dengan tingginya angka kematian ibu hamil dan bayi. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 4.000 ibu hamil dan 30.000 bayi meninggal setiap tahun. Menurunkan kematian ibu dan bayi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada ilmu kedokteran, tetapi juga mempertimbangkan aspek budaya dan sosial yang beragam di Indonesia.
Prof. Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Ketua Pengurus Pusat Himpunan Obstetri dan Ginekologi Sosial Indonesia (PP HOGSI), menekankan pentingnya melihat kesehatan reproduksi secara menyeluruh. Ia menjelaskan bahwa intervensi medis saja belum cukup tanpa memahami kondisi biologis, psikologis, sosial, budaya, dan religi yang membentuk pola asuh dan perawatan ibu serta bayi. “Kalau Indonesia yang terkenal dengan keragaman kulturnya tidak disentuh dengan cara yang berbeda sesuai dengan kondisinya, maka upaya ini tidak akan berhasil,” ujarnya saat konferensi Pers pada 18 Mei lalu di Yogyakarta.
Masalah stunting pun menjadi perhatian utama dalam upaya ini. Sekitar sepertiga kasus stunting bermula sejak masa kehamilan akibat kondisi kesehatan ibu seperti anemia, kekurangan gizi, atau komplikasi. Sisanya berkembang pada dua tahun pertama kehidupan anak yang sangat dipengaruhi oleh asupan ASI, imunisasi, pola asuh, dan lingkungan. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang menyeluruh dari berbagai tenaga kesehatan.
Prof. Dwiana menegaskan bahwa kolaborasi antara bidan, perawat, ahli gizi, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya sangat penting agar pelayanan kepada ibu dan anak bisa optimal mulai dari pencegahan hingga penanganan komplikasi. Kualitas pelayanan sangat bergantung pada mutu pendidikan tenaga kesehatan, sehingga pelatihan dan workshop terus didorong. “Kami berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dengan pelatihan dan penguatan peran dokter spesialis sebagai pengajar di fakultas kedokteran dan sekolah kebidanan,” tambahnya.
Selain aspek medis, tradisi budaya juga menjadi bagian integral dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi. Dr. dr. Eugenius Phyowai Ganap, Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII HOGSI dan dosen di FK-KMK UGM, menyoroti pentingnya memadukan ilmu kedokteran dengan nilai budaya yang telah lama melekat di masyarakat. Tradisi Jawa seperti mitoni, yakni upacara kehamilan tujuh bulan, dan tedak siten, perayaan saat bayi mulai belajar berjalan, mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kehamilan merupakan tanggung jawab bersama lingkungan sekitar.
Dalam rangka memperkuat pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan, PIT XVII HOGSI juga mengadakan berbagai pelatihan seperti penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak, deteksi lesi prakanker serviks, serta Audit Maternal Perinatal Surveillance and Response (AMPSR). Pelatihan ini dirancang agar dokter spesialis obstetri dan ginekologi tidak hanya menguasai ilmu terbaru, tetapi juga mampu mengajarkan dan menerapkannya di lapangan.
Upaya ini menunjukkan langkah konkret dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi dengan pendekatan yang menggabungkan kemajuan ilmu kedokteran dan kearifan lokal. Melalui sinergi berbagai pihak dan pemahaman menyeluruh, diharapkan kesehatan ibu dan anak di Indonesia bisa terus meningkat secara signifikan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan