Media Kampung – Produksi susu dalam negeri saat ini baru bisa memenuhi sekitar 22 sampai 23 persen dari total kebutuhan konsumsi nasional. Kondisi ini menjadi peringatan penting mengingat permintaan susu diperkirakan akan terus meningkat, terutama seiring dengan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digalakkan pemerintah.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., menegaskan bahwa susu memiliki peran strategis sebagai sumber nutrisi sekaligus penggerak ekonomi bagi peternak sapi perah rakyat, terutama yang berukuran kecil.
Dalam lokakarya bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu Lokal” yang berlangsung di Auditorium FKH UGM, Aris menyampaikan bahwa memperkuat sektor peternakan sapi perah rakyat menjadi hal mendesak agar produktivitas susu lokal dapat ditingkatkan. Selama ini, ketergantungan pada impor bahan baku susu masih tinggi, sementara tingkat konsumsi susu di masyarakat relatif rendah.
Peningkatan produktivitas tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terintegrasi. Langkah ini mencakup penambahan populasi ternak, peningkatan produktivitas dan kualitas susu, akses pembiayaan yang memadai, penguatan koperasi, serta penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP) agar hasil produksi lebih optimal dan berkelanjutan.
Program FRESH (Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry) yang tengah dijalankan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi contoh nyata kolaborasi lintas sektor. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu, menambah pendapatan peternak, sekaligus mengurangi emisi gas metana. Berbagai capaian positif telah diraih sejak program ini dimulai, seperti pemulihan pasca wabah penyakit mulut dan kuku (PMK), peningkatan kapasitas peternak dan koperasi, serta dukungan fasilitas susu pasteurisasi.
Selain itu, inovasi teknologi reproduksi dan pakan ternak serta pengembangan energi biogas juga ikut mendorong efisiensi dan keberlanjutan usaha peternakan sapi perah. Program ini dijalankan bersama sejumlah mitra seperti PT Sarihusada Generasi Mahardika, Danone Ecosystem, PRISMA, dan Yayasan Rumah Energi.
Pelaksana Harian Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, drh. Boethdy Angkasa, M.Si., menekankan bahwa peningkatan kapasitas produksi susu nasional bukan hanya tugas pemerintah. Kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, koperasi, dan peternak menjadi kunci utama agar program yang dijalankan dapat memberikan dampak luas dan berkelanjutan.
Sementara itu, Karyanto Wibowo, Senior Director Public Affairs and Sustainability Danone Indonesia, menyoroti pentingnya penguatan tata kelola koperasi serta akses pembiayaan yang mudah dan inovasi di tingkat peternak. Menurutnya, aspek tersebut sangat berpengaruh dalam mempercepat kemajuan sektor peternakan sapi perah rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi susu lokal.
Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, diharapkan produktivitas susu dalam negeri dapat meningkat secara signifikan sehingga mampu memenuhi kebutuhan konsumsi nasional secara lebih mandiri. Sinergi lintas sektor menjadi langkah strategis yang harus terus diperkuat guna mendukung kesejahteraan peternak dan ketahanan pangan nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan