Media Kampung – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memproyeksikan nilai tukar rupiah akan mengalami penguatan kembali pada periode Juli hingga September 2026. Prediksi ini disampaikan menyusul pola pelemahan rupiah yang biasanya terjadi pada kuartal kedua setiap tahun.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 18 Mei 2026, Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sering terjadi antara bulan April hingga Juni. Namun, setelah periode tersebut, rupiah biasanya kembali menguat, terutama pada kuartal ketiga tahun berjalan.

Perry menegaskan bahwa fokus Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan menetapkan nilai tukar pada level tertentu. Stabilitas ini diukur melalui volatilitas nilai tukar yang dihitung menggunakan standar deviasi rolling selama 20 hari.

Rata-rata nilai tukar rupiah tahun ini tercatat di kisaran Rp16.900 per dolar AS, berada di atas asumsi yang tercantum dalam APBN 2026, yakni sekitar Rp16.500 dengan rentang Rp16.200 hingga Rp16.800. Hal ini menjadi perhatian anggota Komisi XI DPR RI yang turut menyoroti kondisi nilai tukar rupiah dalam rapat tersebut.

Perry juga menyampaikan bahwa tidak banyak bank sentral di dunia yang menetapkan target nilai tukar. Sebagian besar negara menyerahkan pergerakan kurs kepada mekanisme pasar, berbeda dengan beberapa negara seperti Singapura dan Hong Kong yang memang menargetkan nilai tukar tertentu.

Di sisi lain, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mempertanyakan metode pengukuran stabilitas rupiah yang diterapkan BI. Menurutnya, pendekatan standar deviasi yang sudah lama digunakan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi di lapangan.

Meskipun demikian, Perry menekankan bahwa pola tahunan pergerakan rupiah yang menunjukkan pelemahan di kuartal kedua dan penguatan di kuartal ketiga tetap menjadi acuan BI dalam memproyeksikan pergerakan nilai tukar di masa mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.