Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan hingga menyentuh level Rp17.655 per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026. Angka ini jauh di atas target nilai tukar yang ditetapkan dalam APBN 2026 yaitu Rp16.500 per dolar AS, menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap perekonomian dan masyarakat Indonesia.
Pelemahan rupiah ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga tekanan dari kondisi global yang sedang tidak menentu. Kenaikan harga minyak dunia yang bertahan di sekitar US$110 per barel, serta ketegangan geopolitik, khususnya perang AS-Iran, menjadi sentimen negatif yang membuat mata uang negara berkembang seperti rupiah tertekan. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed juga turut memperkuat dolar AS sehingga menambah tekanan pada rupiah.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa posisi rupiah saat ini masih di bawah nilai fundamentalnya yang diperkirakan sekitar Rp16.500 per dolar AS sesuai dengan asumsi makro APBN. Ia menyebut pelemahan ini merupakan pola musiman yang terjadi pada kuartal II akibat tingginya permintaan dolar AS, terutama untuk pembagian dividen. Perry optimistis rupiah akan kembali menguat pada kuartal berikutnya.
Selain faktor eksternal, pernyataan Presiden Prabowo Subianto juga berkontribusi pada sentimen negatif pasar. Pernyataan yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar menuai polemik dan dinilai oleh pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap rupiah.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Kenaikan ini disebabkan oleh meningkatnya biaya bahan baku impor yang harus dibayar dalam rupiah lebih mahal. Selain itu, biaya transportasi dan layanan kesehatan juga diperkirakan akan mengalami kenaikan seiring naiknya biaya produksi.
Lebih lanjut, Rijadh menyoroti bahwa pelemahan rupiah menambah beban pada pos anggaran negara, terutama subsidi energi yang sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Hal ini berpotensi membatasi ruang fiskal pemerintah dalam membiayai sektor-sektor penting lain seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial akibat meningkatnya beban subsidi dan utang luar negeri.
Keadaan ini juga memberi dampak lebih berat bagi masyarakat desa yang mayoritas bergantung pada sektor informal dan pendapatan yang tidak tetap. Mereka menjadi kelompok yang rentan merasakan dampak dari fluktuasi nilai tukar dan kenaikan harga barang pokok di pasar.
Tekanan terhadap rupiah juga memicu ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang saat ini berada di level 4,75%. Berdasarkan riset Stockbit dan data Bloomberg, pasar memperkirakan BI Rate dapat naik menjadi sekitar 5% pada akhir 2026 sebagai respons terhadap tekanan eksternal, terutama inflasi tinggi di AS dan harga minyak yang tetap tinggi.
Seiring pelemahan rupiah, pasar modal juga mengalami tekanan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,85% ke level 6.599 dan terjadi arus keluar dana asing senilai Rp464 miliar pada perdagangan Senin. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga naik 11 basis poin ke level 6,81%, mencerminkan ketidakpastian investor terhadap kondisi pasar keuangan domestik.
Kendati menghadapi berbagai tekanan, Gubernur BI tetap optimistis nilai tukar rupiah dapat kembali menguat ke kisaran Rp16.500 per dolar AS sesuai asumsi makro APBN 2026. Ia memproyeksikan penguatan akan terjadi memasuki kuartal ketiga dan seterusnya, setelah permintaan dolar AS mulai menurun.
Situasi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat agar tidak terlalu terdampak oleh fluktuasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan