Media Kampung – Jakarta mengalami tekanan pasar keuangan pada Senin (18/5/2026) pagi dengan pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.664 per dolar AS dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih solid meskipun terdapat gejolak pasar jangka pendek.

Purbaya menjelaskan bahwa penurunan IHSG dan pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen pasar yang bersifat sementara dan bukan refleksi dari kondisi ekonomi yang mendasar. Pemerintah pun fokus menjaga fondasi ekonomi agar pertumbuhan nasional tidak terganggu. Ia menambahkan, “Fondasi ekonominya kan bagus. Itu masalah sentimen yang agak pendek. Jadi saya akan fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan perkembangan ekonomi tidak terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Untuk menstabilkan pasar keuangan, pemerintah melalui Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai melakukan intervensi signifikan di pasar obligasi. Langkah ini bertujuan mengendalikan volatilitas pasar dan mencegah kepanikan investor asing yang bisa melepas kepemilikan obligasi karena takut mengalami kerugian modal. “Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali,” jelas Purbaya.

Intervensi tersebut juga diharapkan dapat membantu memperbaiki pergerakan nilai tukar rupiah yang tengah melemah cukup tajam, mencapai rekor terendah dalam sejarah terhadap dolar AS. Menurut Purbaya, tekanan yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan krisis ekonomi 1997-1998 karena saat ini Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi kuat dan belum memasuki masa resesi.

Namun, tidak semua pihak sependapat dengan optimisme pemerintah. Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, mengkritik pelemahan rupiah yang dinilai tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026. Primus bahkan mempertanyakan kredibilitas Bank Indonesia dan menyarankan Gubernur Bank Indonesia untuk bertanggung jawab dengan mundur jika tidak mampu menstabilkan nilai tukar rupiah.

Selain itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Fithra Faisal menyatakan bahwa tanpa intervensi pemerintah dan Bank Indonesia, rupiah seharusnya sudah melewati level Rp18 ribu per dolar AS akibat tekanan eksternal seperti risiko geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, dan arus keluar modal asing. Cadangan devisa Indonesia saat ini masih aman di level US$146 miliar, menjadi modal penting untuk menghadapi tekanan tersebut.

Sementara itu, majalah internasional The Economist mengeluarkan kritik terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Artikel tersebut menyoroti risiko fiskal akibat anggaran besar untuk program populis dan sentralisasi kekuasaan yang dinilai dapat mengancam fondasi ekonomi dan demokrasi yang telah dibangun selama 20 tahun terakhir. The Economist menilai Indonesia saat ini berada di jalur berbahaya jika tidak ada perubahan arah kebijakan.

Menanggapi berbagai dinamika tersebut, pemerintah berjanji akan terus melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor. Purbaya menyebutkan bahwa kebijakan tambahan terkait stabilisasi pasar akan diumumkan dalam waktu dekat. Ia juga mengajak pelaku pasar untuk tidak panik dan optimistis bahwa pasar keuangan akan segera pulih.

Dengan berbagai tantangan yang muncul, upaya intervensi dan penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci agar Indonesia mampu melewati tekanan pasar dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.