Media Kampung, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah dan mencapai level terendah sepanjang sejarah pada Senin, 13 Juli 2026. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup di Rp18.136 per dolar AS, melemah 44 poin atau 0,24 persen dari hari sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah berbagai tekanan eksternal dan domestik. Dari sisi global, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed menjadi faktor utama. Sementara itu, kondisi domestik seperti defisit fiskal yang melebar dan ketidakpastian kebijakan juga ikut menekan.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Pengamat ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyebutkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, kenaikan yield obligasi Jepang serta potensi The Fed menaikkan suku bunga acuan karena inflasi yang masih tinggi menjadi pemicu. Sementara unemployment rate AS yang sesuai target (4-4,5 persen) memberi ruang bagi The Fed untuk bertindak.
Di dalam negeri, defisit APBN 2026 diproyeksikan naik menjadi 2,85% PDB dari sebelumnya 2,68%, akibat tambahan anggaran subsidi dan kompensasi energi sebesar Rp132 triliun. Hingga semester I 2026, defisit tercatat Rp196,5 triliun atau -0,76% PDB.
Dampak bagi Perekonomian
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor yang cenderung naik, berpotensi mendorong inflasi. Sektor usaha yang bergantung pada bahan baku impor akan merasakan tekanan biaya lebih tinggi. Di sisi lain, eksportir bisa diuntungkan karena daya saing produk di pasar global meningkat.
Namun, depresiasi rupiah juga mempengaruhi kepercayaan investor. Kasus dugaan korupsi yang melibatkan pejabat tinggi penegak hukum, seperti penyitaan 74 kg emas dan uang tunai US$15 juta dari rumah mantan deputi jaksa agung, menambah kekhawatiran tentang integritas institusi dan iklim investasi.
Prospek ke Depan
Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% pada 2026 dan rata-rata 4,9% per tahun hingga 2029. Meski demikian, pengumuman tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mengangkat rupiah karena investor masih fokus pada arus modal dan tekanan eksternal.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai bahwa sentimen positif dari S&P lebih terasa di pasar obligasi, sementara rupiah masih tertekan oleh faktor global dan domestik. Disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan pasar.
Untuk mencapai level Rp17.000 per dolar AS, diperlukan perbaikan fundamental ekonomi, pengendalian defisit, dan stabilitas politik yang terjaga. Namun, dengan kondisi saat ini, banyak analis menilai penguatan signifikan masih sulit terjadi dalam waktu dekat.























Tinggalkan Balasan