Media Kampung, Jakarta — Setiap tanggal 2 Juli diperingati sebagai Hari Koperasi Nasional. Tahun ini, peringatan ke-79 mengusung tema “Koperasi Berdaya Indonesia Berjaya”. Tema ini merepresentasikan penguatan peran koperasi sebagai pilar ekonomi kerakyatan yang mampu meningkatkan kapasitas anggota, pelaku UMKM, dan masyarakat melalui akses terhadap permodalan, pasar, teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia.

“Koperasi Berdaya” mencerminkan kelembagaan yang sehat, profesional, inovatif, dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya secara nyata. Sementara “Indonesia Berjaya” menggambarkan cita-cita terwujudnya perekonomian nasional yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan melalui koperasi yang modern dan berdaya saing. Semakin kuat peran koperasi di seluruh Indonesia, semakin besar kontribusinya dalam memperkuat struktur ekonomi nasional serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Sejarah Hari Koperasi Nasional

Melansir laman Dewan Koperasi Indonesia, sejarah Hari Koperasi Nasional tidak terlepas dari perkembangan gerakan koperasi di Indonesia yang telah dimulai sejak masa kolonial. Tonggak awalnya tercatat pada 16 Desember 1896, ketika Raden Aria Wiraatmadja mendirikan Hulp en Spaarbank di Purwokerto. Lembaga tersebut dikenal sebagai salah satu cikal bakal gerakan koperasi di Indonesia karena bertujuan membantu masyarakat memperoleh akses layanan keuangan.

Seiring waktu, semangat berkoperasi terus berkembang melalui sejumlah organisasi pergerakan nasional, seperti Budi Utomo, Sarekat Dagang Islam, dan Studie Club. Organisasi-organisasi tersebut turut mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat serta menanamkan nilai-nilai gotong royong dan kemandirian.

Setelah Indonesia merdeka, berbagai organisasi koperasi dari berbagai daerah bersatu dalam Kongres Koperasi Indonesia pertama yang digelar di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947. Kongres yang dihadiri sekitar 500 utusan dari seluruh Indonesia itu menjadi tonggak penting dalam sejarah gerakan koperasi nasional.