Media Kampung – Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu yang menargetkan pencetakan sekitar 4.000 wirausaha baru dari sektor UMKM dan pondok pesantren. Program ini diharapkan menjadi motor penciptaan lapangan kerja sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan di tengah ketidakpastian global. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan sektor UMKM menjadi semakin penting karena perekonomian dunia masih dibayangi konflik geopolitik, perang dagang, hingga ketidakpastian ekonomi dan keuangan global.
Fokus pada Kemandirian Ekonomi
Dalam sambutannya pada acara Kick-Off Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, Senin (22/6), Perry Warjiyo menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan faktor eksternal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. “Dalam suatu ketidakpastian yang tinggi kita harus semakin mandiri. Apa pun yang terjadi di global, we have to move on,” ujarnya. Menurut Perry, lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia merupakan pilar penting pembangunan karena sebagian besar menciptakan lapangan kerja.
Pendekatan Baru: Fondasi Bisnis Sebelum Pembiayaan
Program ini dijalankan melalui sinergi BI dengan Kementerian Agama, Kementerian UMKM, pemerintah daerah, asosiasi bisnis, hingga komunitas pesantren. Para peserta akan mengikuti pelatihan, magang, dan pendampingan usaha sebelum memperoleh akses permodalan. Perry menegaskan bahwa pendekatan baru ini dirancang agar pelaku usaha memiliki fondasi bisnis yang kuat sebelum mendapatkan dukungan pembiayaan. “Dudu duite (bukan uangnya) dulu. Wirausahanya dulu yang harus dilakukan,” tegasnya.
Program Unggulan: Cangkir Barista dan Citra Nusantara
Salah satu program unggulan yang diluncurkan adalah Cangkir Barista, yang menargetkan lahirnya 400 barista bersertifikat internasional setiap tahun guna mendukung pengembangan industri kopi nasional. Menurut Perry, potensi industri kopi Indonesia sangat besar dengan nilai pasar mencapai USD 12,5 miliar, namun jumlah barista bersertifikat internasional masih sangat terbatas. “Sekarang itu ada 923 ribu barista, berapa yang sertifikasi internasional? Mung cepek (hanya seratus),” katanya. Peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis meracik kopi, tetapi juga dibekali kemampuan membangun dan mengelola bisnis secara profesional.
Selain kopi, BI juga mengembangkan program Citra Nusantara yang berfokus pada peningkatan daya saing industri wastra (tekstil tradisional) nasional. Program ini menargetkan lahirnya 50 inovasi produk baru pada 2026 dari 500 peserta yang telah diseleksi. Para peserta akan mendapatkan pendampingan langsung dari desainer dan pelaku industri kreatif. Perry menilai sektor wastra memiliki prospek besar karena didukung kekayaan budaya Indonesia yang tidak dimiliki negara lain. Saat ini industri wastra tercatat memiliki sekitar 47.700 unit usaha dan menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja.
Ekonomi Pesantren: Air Berkah Indonesia dan Tani Berkah
Di sektor ekonomi pesantren, BI meluncurkan program Air Berkah Indonesia yang bertujuan mendorong kemandirian ekonomi pondok pesantren melalui usaha air minum dalam kemasan. BI menargetkan 200 pesantren mampu mengembangkan bisnis tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Produk air minum diharapkan dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar. Program ini menjadi bagian dari pengembangan ekonomi pesantren yang selama ini telah dijalankan BI di lebih dari 1.500 pondok pesantren di berbagai daerah.
BI juga memperluas program Tani Berkah yang berfokus pada pengembangan pertanian modern berbasis hidroponik dan green farming di lingkungan pesantren. Program tersebut akan memberikan pelatihan kewirausahaan, praktik usaha, hingga pendampingan bisnis agar pesantren mampu mengelola usaha pertanian secara mandiri. Perry menyebut model bisnis ini telah terbukti berhasil di sejumlah pesantren dan memiliki potensi untuk diperluas. “Tani Berkah ini tahun ini alhamdulillah 10 pondok pesantren. Tahun depan 50 lah, tahun berikutnya 100 lah,” ujarnya.
Dampak dan Harapan
Perry berharap seluruh program yang diluncurkan dapat memperkuat ekonomi kerakyatan, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Dengan pendekatan terpadu yang mengedepankan pelatihan dan pendampingan sebelum pembiayaan, BI optimistis program ini akan melahirkan wirausaha-wirausaha tangguh yang mampu bersaing dan berkontribusi pada perekonomian Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan