Media Kampung – Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan apresiasi terhadap kritik dan masukan yang disampaikan pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, terkait intensitas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri. Menlu Sugiono menilai bahwa kritik yang konstruktif dan berdasarkan fakta akurat merupakan bagian penting dalam proses perbaikan kebijakan diplomasi Indonesia.

Meskipun mengaku belum membaca langsung kritik tersebut, Menlu Sugiono menyampaikan terima kasih atas berbagai pandangan yang muncul di ruang publik. Ia menegaskan bahwa semua saran dan kritik yang bertujuan perbaikan adalah hal yang baik, asalkan disampaikan secara konstruktif dan didasarkan pada data yang akurat.

Menlu Sugiono menjelaskan bahwa kehadiran Presiden di berbagai forum internasional merupakan konsekuensi dari posisi Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia. Amanat konstitusi mengharuskan Indonesia berperan aktif dalam pergaulan internasional dan tidak boleh bersikap pasif terhadap perkembangan global.

Sejak awal, Presiden Prabowo telah menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan menjalin hubungan baik dengan semua negara. Prinsip ini tercermin dalam pernyataan Presiden bahwa seribu kawan terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak.

“Implementasinya atau konsekuensinya dari ini adalah kita harus hadir di banyak tempat, kita harus berkawan dengan semuanya dan semua itu direncanakan dengan baik. Didahului oleh diskusi diplomatik yang baik, presiden menentukan, kita kasih saran, substansi-substansi dan prioritas yang perlu dibahas,” ujar Menlu Sugiono di Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026, usai pertemuan bilateral dengan Menlu Madagaskar.

Ia menambahkan bahwa situasi global yang diwarnai konflik di Timur Tengah dan kawasan lain menuntut diplomasi yang lebih aktif. Komunikasi langsung antarpemimpin negara tetap menjadi sarana penting untuk membangun kepercayaan dan membuka ruang dialog yang lebih luas. “Kalau cuma telepon-telepon aja kan beda sama ketemu langsung. Kita bisa melihat bahasa tubuh, ada kedekatan personal, dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak,” ucapnya.

Menlu Sugiono juga menanggapi pertanyaan Dino Patti Djalal mengenai 17 duta besar negara sahabat yang belum diterima pihak istana untuk penyerahan surat kepercayaan. Ia memastikan bahwa pelantikan para duta besar tersebut akan digelar pada pekan depan. “Sudah dijadwalkan, kalau tidak salah minggu ini, dan terakhir penyerahan surat-surat credential itu kan November (2025), terus setelah itu, ya dari November sampai sekarang. Datangnya kan (para duta besar) juga bertahap dan prosesnya juga bertahap,” kata Menlu Sugiono.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.