Media Kampung – Relawan asal Indonesia, Herman Budianto, mengungkap pengalaman pahit saat ditahan oleh militer Israel dalam misi Global Sumud Flotilla. Ia menyampaikan bahwa banyak relawan mengalami cedera parah mulai dari proses penangkapan hingga selama masa penahanan berlangsung.

Herman menjelaskan bahwa sejumlah relawan mengalami patah tulang hingga luka-luka serius akibat kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasukan Israel. “Banyak yang mengalami cedera berat, seperti patah rusuk, tangan, kaki, bahkan ada yang ditembak,” ujarnya saat memberikan keterangan pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Minggu, 24 Mei 2026.

Tak hanya kekerasan fisik, Herman juga menuding adanya tindakan penyiksaan brutal yang berlangsung selama empat hari penahanan. Ia menegaskan bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh militer Israel sangat kejam sejak awal penculikan hingga proses panjang di tempat penahanan.

Lebih jauh, Herman mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dialami oleh beberapa relawan, baik pria maupun wanita, selama masa penahanan. Hal ini menambah gambaran buruk terhadap perlakuan yang diterima para relawan kemanusiaan tersebut.

Kondisi penahanan yang tidak manusiawi turut diceritakan secara rinci oleh Herman. Ia menyebutkan bahwa para relawan diperlakukan seolah bukan manusia, harus berjalan dengan merangkak menggunakan lutut dan dilarang menatap langsung ke petugas penjaga. “Kami harus selalu menunduk dan tidak boleh menatap mereka,” kata Herman.

Fasilitas di tempat penahanan juga sangat memprihatinkan. Herman menyebut para relawan harus tidur di lantai basah tanpa selimut, mengenakan pakaian yang juga dalam kondisi basah. Semua ini dialami dalam situasi fisik yang sudah melemah karena cedera dan siksaan yang diterima.

Pengalaman Herman ini memberikan gambaran nyata tentang beratnya kondisi yang dialami para relawan internasional dalam misi kemanusiaan tersebut. Cerita tersebut sekaligus menjadi pengingat tentang risiko besar yang harus dihadapi oleh mereka yang terlibat dalam aksi kemanusiaan di wilayah konflik.

Kondisi para relawan kini telah membaik usai mereka tiba kembali di Indonesia, namun cerita tentang perlakuan selama penahanan tetap menjadi catatan penting terkait situasi keamanan dan hak asasi manusia yang terkait dengan konflik di wilayah tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.