Media Kampung – Relawan kemanusiaan asal Indonesia, Hendro Prasetyo, membagikan pengalaman berat saat bersama aktivis Global Sumud Flotilla ditahan militer Israel. Hendro mengungkapkan bahwa para relawan sempat melakukan mogok makan sebagai bentuk protes terhadap perlakuan pihak Israel selama masa penahanan.

Akibat penolakan tersebut, sebagian besar relawan mengalami kelaparan dan dehidrasi cukup parah selama masa penahanan yang berlangsung antara tiga hingga lima hari. Hendro menjelaskan, mereka menahan diri tidak memakan roti dan minuman mineral yang diberikan oleh militer Israel selama waktu tersebut.

Namun, kondisi dehidrasi akhirnya memaksa Hendro dan beberapa relawan lain mengonsumsi air dalam jumlah sangat terbatas untuk menjaga kondisi tubuh. “Dehidrasinya tidak bisa saya tahan lagi, jadi akhirnya sempat meminum,” lanjut Hendro. Ia juga menjabarkan kondisi saat dipindahkan ke ruang penahanan di kapal militer Israel, dimana mereka hanya mendapat sedikit air keran yang dibagikan secara terbatas untuk sekitar 30 orang.

Hendro merupakan salah satu dari sembilan warga negara Indonesia yang mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza bersama Global Sumud Flotilla. Mereka ditahan militer Israel setelah kapal bantuan dicegat di perairan internasional pada 19 Mei 2026. Penahanan ini memicu diplomasi intensif dari Pemerintah Indonesia serta dukungan internasional hingga akhirnya seluruh relawan berhasil dibebaskan dan dipulangkan melalui Istanbul, Turki.

Peristiwa ini menyoroti tantangan berat yang dihadapi para relawan kemanusiaan saat berupaya memberikan bantuan di wilayah konflik. Penolakan untuk mengonsumsi makanan yang diberikan oleh pihak penahan menggambarkan rasa was-was yang tinggi terhadap keselamatan diri, sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap perlakuan yang dianggap tidak manusiawi.

Kisah Hendro dan rekan-rekannya ini menjadi catatan penting mengenai kondisi para aktivis kemanusiaan yang berjuang di tengah situasi penuh tekanan dan risiko. Setelah melalui proses penahanan dan diplomasi, mereka kini kembali ke tanah air dengan membawa pengalaman yang menggugah dan menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan terhadap relawan dalam misi kemanusiaan.

Dengan dibebaskannya para relawan Global Sumud Flotilla, diharapkan kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang hak-hak kemanusiaan dan perlakuan terhadap para aktivis yang menjalankan tugas sosial di zona konflik. Kisah Hendro menjelaskan bahwa solidaritas dan keberanian tetap menjadi kunci dalam menghadapi tantangan besar di lapangan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.