Media Kampung – Kapal Global Sumud Flotilla yang membawa relawan kemanusiaan Indonesia kehilangan akses internet beberapa jam sebelum dicegat militer Israel di perairan internasional dekat Gaza. Andre Prasetyo Nugroho, relawan yang ikut dalam misi tersebut, mengungkapkan bahwa gangguan koneksi terjadi saat rombongan masih berjarak sekitar 200 mil dari wilayah Gaza.

Penangkapan kapal berlangsung pada Senin, 19 Mei 2026, sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Menurut Andre, tiga jam sebelum proses intercept berlangsung, seluruh sistem internet kapal, termasuk Starlink, sudah tidak dapat terhubung sama sekali. Kondisi ini membuat para relawan kehilangan komunikasi dengan dunia luar dan tidak bisa mengirim dokumentasi lengkap selama penangkapan.

Andre bercerita bahwa selama perjalanan menuju Gaza, dirinya sempat merekam berbagai momen menggunakan telepon genggam pribadi. Namun saat koneksi internet terputus, perangkat tersebut akhirnya dibuang untuk menghindari penyitaan oleh militer Israel yang melakukan penangkapan. Tidak hanya telepon genggam, beberapa alat dapur dan benda tajam juga dibuang para relawan demi mengurangi potensi ancaman yang dianggap militer.

“Handphone itu saya gunakan merekam banyak sekali, tapi akhirnya karena tidak ada sinyal, saya buang agar tidak disita, begitu juga dengan pisau dan alat dapur tajam lainnya,” ujar Andre saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu, 24 Mei 2026.

Meski gagal menembus blokade yang diterapkan militer Israel di perairan Gaza, solidaritas antar relawan dan jurnalis internasional di kapal memberikan kekuatan tersendiri. Kebersamaan selama misi membuat mereka tetap optimistis menghadapi situasi sulit meskipun terjadi intimidasi dan penangkapan.

Andre menegaskan bahwa gerakan Global Sumud Flotilla tidak akan berhenti meski menghadapi berbagai hambatan. Tujuan utama mereka tetap sama, yaitu membantu rakyat Palestina yang membutuhkan dukungan kemanusiaan.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata tantangan yang dihadapi relawan kemanusiaan dalam menjalankan misi di wilayah yang penuh konflik. Gangguan akses internet dan penangkapan oleh militer Israel menunjukkan betapa sulitnya upaya kemanusiaan untuk mencapai wilayah Gaza.

Ke depan, para relawan berkomitmen untuk terus melanjutkan misi dan memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di tengah situasi yang semakin kompleks. Dukungan internasional dan solidaritas antar aktivis menjadi modal utama agar perjuangan ini tetap berjalan.

Dengan kejadian ini, masyarakat Indonesia semakin menyadari risiko yang harus dihadapi para relawan dalam membantu saudara mereka di Palestina. Informasi dari dalam kapal yang sempat terputus internet menambah dimensi baru terkait tantangan komunikasi dalam situasi darurat seperti ini.

Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya kebebasan informasi dan akses komunikasi dalam misi kemanusiaan. Penangkapan yang dilakukan di perairan internasional menimbulkan banyak pertanyaan mengenai hak dan perlindungan terhadap relawan yang berjuang di zona konflik.

Andre Prasetyo Nugroho dan rekan-rekannya kini telah kembali ke tanah air dan menyambut hangat oleh keluarga. Kisah mereka memberikan gambaran langsung tentang realita di lapangan dan menambah kesadaran publik akan kondisi yang dihadapi rakyat Palestina serta relawan internasional yang membantu mereka.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.